Lahir di Wajo, Sulawesi Selatan, 14 April 1973, Ady Indra Pawennari melangkah meninggalkan tanah kelahirannya pada tahun 1994. Saat usianya baru 21 tahun, ia merantau tanpa modal harta, melainkan hanya berbekal tekad kuat dan keberanian.
Tanjungpinang, Kota Gurindam yang teduh, menyambut langkah pertamanya. Di kota inilah garis takdirnya terukir kuat. Puluhan tahun berlalu, sebagian besar perjalanan hidupnya kini telah tertambat erat di bumi Kepulauan Riau.
Perjalanan bisnis Ady bermula dari industri hiburan. Melalui lini usaha event organizer, ia sempat meramaikan panggung hiburan Kepri dengan mendatangkan deretan artis besar nusantara pada masanya, mulai dari Desy Ratnasari, Paramitha Rusadi, Puput Novel, Doyok, hingga Annisa Bahar.
Namun, di balik riuh rendah tepuk tangan penonton dan gemerlap lampu panggung, ada sudut batin yang belum terisi. Jiwanya merindukan panggilan yang lebih dalam: dunia tinta hitam.
Tahun 1996 menjadi awal dedikasinya pada dunia pers. Ia bergabung dengan SKM GeNTA, koran mingguan tertua di Riau yang terbit di Pekanbaru sejak tahun 1978, Suara Riau, Sijori Mandiri, hingga mendirikan media online pertama di Riau tahun 2001, yakni bintanpos.com.
Ketajaman intuisi dan keteguhan prinsipnya membuat pemuda ini langsung dipercaya memikul tanggung jawab besar sebagai Kepala Biro Kabupaten Kepri, sebelum wilayah tersebut berpisah dari Provinsi Riau.
Di ruang redaksi dan jalanan itulah karakter Ady ditempa. Ia menolak menjadi jurnalis yang sekadar mencari aman. Baginya, pena adalah senjata untuk menyuarakan kebenaran yang kerap dibungkam.
Ketika keberanian menuntunnya membongkar gurita praktik judi sie jie di Tanjungpinang, ketenangannya seketika direnggut. Badai kemarahan dari pihak yang terusik menghantamnya tanpa ampun.
Kantornya diobrak-abrik, dan ia dikeroyok oleh orang-orang suruhan bandar judi hingga bersimbah darah dan nyaris meregang nyawa.
Teror tidak berhenti sampai di situ. Rumah tempat bernaung anak dan istrinya bahkan sempat dilempar bom molotov.
Di tengah kobaran api dan ancaman yang mencekam, ia bergeming. Baginya, harga sebuah kebenaran tidak bisa ditawar oleh ketakutan, bahkan jika nyawa menjadi taruhannya.
Waktu terus berjalan, membawa luka-luka masa lalu bertransformasi menjadi berkah. Kini, wajahnya lebih dikenal sebagai pengusaha sukses yang disegani di bidang pertambangan pasir kuarsa.
Sejumlah jabatan strategis kini berada di belakang namanya:
• Ketua Umum Himpunan Penambang Kuarsa Indonesia (HIPKI)
• Wakomtap Kadin Indonesia
• Wakil Ketua Umum Gapensi Kepri
• Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kepri
• Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri
Namanya bahkan dianugerahi penghargaan sebagai Pahlawan Inovasi Teknologi oleh MNC Media pada Hari Pahlawan, 10 November 2015. Penghargaan ini diraih berkat inovasinya memanfaatkan sabut kelapa untuk mengubah lahan tandus menjadi kawasan produktif.
Namun, kejayaan materi tak mampu mengubah kepedulian sosialnya. Di balik kesuksesan finansial dan aktivitasnya di ruang rapat yang megah, ia tetaplah Ady yang dulu—pria yang hatinya mudah tersentuh oleh penderitaan sesama. Ia menolak bahagia sendirian di puncak keberhasilan.
Baginya, kemewahan akan kehilangan makna jika tidak digunakan untuk membantu orang lain, terutama mereka yang pernah sama-sama berjuang di dunia pers.
Kepeduliannya terhadap rekan seprofesi menjadi bukti ketulusan yang nyata. Melihat masih banyak wartawan daerah yang hidup dalam impitan ekonomi dan berjuang tanpa legalitas formal, hatinya teriris. Ia tidak bisa tinggal diam melihat profesi yang membesarkannya dipandang sebelah mata.
Baginya, kehormatan dan kompetensi seorang wartawan adalah harga mati. Tanpa ragu, ia menggunakan dana pribadi hingga ratusan juta rupiah untuk membiayai programUji Kompetensi Wartawan (UKW), bekerja sama dengan UPN “Veteran” Yogyakarta.
Di saat dunia bisnis mengajarkannya untuk selalu menghitung untung dan rugi, ia justru menepikan rumus itu demi masa depan para jurnalis. Ia ingin melihat rekan-rekannya berdiri tegak dan dihargai karena kecerdasan serta integritas yang mereka miliki, bukan karena belas kasihan.
Dari seorang pemuda perantau yang bermodal nekat, jurnalis tangguh yang kebal terhadap teror, hingga kini menjadi seorang pengusaha yang dermawan—Ady Indra Pawennari adalah sebuah refleksi indah tentang kehidupan. Ia mengajarkan bahwa setinggi apa pun kesuksesan yang diraih, kaki dan hati harus tetap membumi untuk membantu sesama.
Lewat dedikasinya yang tulus, ia membuktikan sebuah esensi kehidupan: bahwa kekayaan sejati manusia bukanlah apa yang berhasil dikumpulkan untuk diri sendiri, melainkan seberapa banyak martabat sesama yang mampu diangkat dengan tangan sendiri.





Komentar