Tak Sekadar Transaksi, Digitalisasi Keuangan Didorong Buka Akses Ekonomi Masyarakat Kepri
- account_circle Ambok Akok
- calendar_month 15 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

Staf Ahli Gubernur Kepulauan Riau Bidang Ekonomi dan Pembangunan Andri Rizal, mewakili Pemprov Kepri. (F-Humas BI Kepri)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BATAM, BacaDulu.id — Jarak geografis antarpulau di Kepulauan Riau tidak boleh menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap layanan keuangan dan peluang ekonomi.
Pemanfaatan teknologi sektor keuangan dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk menjangkau masyarakat sekaligus memperkuat aktivitas usaha di wilayah kepulauan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Forum Sinergi Pengembangan Ekonomi Daerah melalui Pemanfaatan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) yang berlangsung di Batam, 31 Agustus hingga 1 September 2026.
Kegiatan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu melibatkan pemerintah daerah, pelaku industri jasa keuangan, pelaku usaha, asosiasi, perusahaan teknologi serta akademisi.
Forum tersebut membahas bagaimana inovasi di sektor keuangan dapat dimanfaatkan untuk memperluas pembiayaan, terutama bagi sektor usaha yang menjadi kekuatan ekonomi Kepulauan Riau.
Staf Ahli Gubernur Kepri Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Andri Rizal, mengatakan perkembangan teknologi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, digitalisasi seharusnya mampu membuat layanan keuangan lebih mudah dijangkau, termasuk oleh masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dan wilayah perbatasan.
“Pulau yang jauh tidak boleh berarti jauh dari layanan keuangan. Masyarakat di wilayah perbatasan tidak boleh tertinggal dalam mengakses teknologi. UMKM di daerah tidak boleh kalah hanya karena keterbatasan akses terhadap pasar dan pembiayaan,” kata Andri.
Pemprov Kepri melihat transformasi digital sebagai peluang untuk memperkuat UMKM. Tidak hanya dalam memperoleh modal, tetapi juga dalam pencatatan keuangan, pemasaran, transaksi dan pengembangan pasar.
Digitalisasi juga diharapkan dapat mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga pembiayaan melalui pemanfaatan data dan layanan keuangan berbasis teknologi.
Potensi Besar Ekonomi Digital
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menyebut perkembangan inovasi keuangan digital terus menunjukkan pertumbuhan.
Hingga Juli 2026, sebanyak 16 Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK) tercatat dengan jumlah pengguna mencapai lebih dari 19 juta. Nilai transaksinya mencapai Rp15,35 triliun.
Sementara itu, delapan Penyelenggara Kegiatan Aset Keuangan Digital (PKA) tercatat dengan total hit 184 juta dan aset mencapai Rp564 miliar.
Pertumbuhan juga terlihat pada ekosistem aset kripto. Jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai 22,93 juta akun, sedangkan nilai transaksi perdagangan aset kripto sepanjang 2026 mencapai Rp171,12 triliun hingga Juli.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital. Namun, pertumbuhan industri harus dibarengi pemahaman masyarakat mengenai manfaat, risiko dan keamanan penggunaan produk keuangan digital.
Karena itu, aspek perlindungan konsumen dan peningkatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem tersebut.
Masyarakat juga diingatkan untuk memastikan layanan yang digunakan berasal dari penyelenggara yang legal dan memiliki izin sesuai ketentuan.
Kepri Punya Ruang Kolaborasi Luas
Dalam forum tersebut, pembahasan tidak hanya berkutat pada perkembangan teknologi keuangan. Para peserta juga mencari peluang kolaborasi untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif di daerah.
UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, perikanan dan industri digital menjadi beberapa sektor yang dinilai memiliki ruang pengembangan melalui dukungan inovasi keuangan.
Kegiatan dilanjutkan dengan Strategic Focus Group Discussion, Technical Focus Group Discussion serta Forum Business Matching.
Sejumlah pihak terlibat dalam rangkaian tersebut, di antaranya OJK, Pemerintah Provinsi Kepri, Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, BPD, BPR, BPRS, asosiasi industri, akademisi dan penyelenggara ITSK.
Batam dipandang memiliki posisi strategis untuk pengembangan ekonomi digital karena statusnya sebagai kawasan industri dan Free Trade Zone (FTZ), serta kedekatannya dengan pusat ekonomi regional.
Melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi teknologi keuangan diharapkan mampu bergerak lebih jauh dari sekadar mempermudah transaksi.
Teknologi diharapkan menjadi instrumen yang membantu masyarakat memperoleh pembiayaan, memperluas pasar, meningkatkan produktivitas usaha dan pada akhirnya ikut memperkuat pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau.
Dalam forum tersebut, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai ekosistem ITSK, aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), stablecoin serta Regulatory Sandbox OJK sebagai ruang pengujian inovasi di sektor keuangan.
Panel diskusi menghadirkan Kepala Grup Inovasi Keuangan Digital OJK Lutfi Alkatiri, Direktur Eksekutif Asosiasi Blockchain Indonesia Kirana Soehaimi dan Anggota Departemen PKA Asosiasi Fintech Indonesia Riza Mauly Kristanto.
Dengan semakin berkembangnya teknologi, tantangannya kini bukan lagi sekadar seberapa cepat masyarakat beralih ke layanan digital, tetapi bagaimana transformasi tersebut benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi yang merata bagi masyarakat Kepri.
- Penulis: Ambok Akok

Saat ini belum ada komentar