Presiden Prabowo di EEF ke-11 Rusia: Samudra Pasifik Adalah Jembatan Ekonomi Bilateral
- account_circle Ambok Akok
- calendar_month 14 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

Presiden RI Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Federasi Rusia, Kamis, 3 September 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kepala Negara Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memenuhi undangan khusus dari Presiden Vladimir Putin untuk hadir sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) edisi ke-11. Konferensi tingkat tinggi yang dihelat di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, ini berlangsung dari tanggal 1 hingga 4 September 2026. Kehadiran delegasi tingkat tinggi Indonesia disambut dalam forum yang mengangkat topik utama pembangunan kawasan timur demi kesejahteraan masyarakat.
Acara pembukaan diawali dengan pemaparan dari Presiden Putin, dilanjutkan oleh pidato utama Presiden Prabowo. Sesi pleno kemudian diisi dengan pandangan strategis dari sejumlah pemimpin regional lain, yakni PM Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw, serta Wakil PM Tiongkok Ding Xuexian.
Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku bisnis global, Presiden Putin menegaskan signifikansi kawasan Asia-Pasifik sebagai motor penggerak ekonomi dunia yang dinamis. Ia menyatakan bahwa Moskow berkomitmen memperluas kemitraan investasi dan perdagangan secara adil di kawasan tersebut, khususnya dalam pengembangan infrastruktur, teknologi, serta penyiapan sumber daya manusia di wilayah Timur Jauh.
Sementara itu, Presiden Prabowo dalam pidatonya menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat Pemerintah Rusia. Kunjungan kenegaraan ini menandai lawatan keduanya ke Moskow dalam kurun waktu yang sama, sekaligus menjadi momentum untuk mengundang para investor Rusia dan Presiden Putin agar berkunjung ke Indonesia.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyoroti posisi strategis Indonesia yang diapit oleh dua samudra besar sebagai landasan untuk mempererat hubungan dagang dengan kawasan Eurasia serta Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Meskipun Indonesia dan Rusia sama-sama memiliki bentang teritori yang luas dengan tantangan pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan, jarak tersebut dipandang bukan sebagai hambatan.
Dalam poin kuncinya, Presiden Prabowo menekankan bahwa bentangan perairan luas di antara kedua negara harus dimaknai secara positif sebagai sarana konektivitas, alih-alih penghalang diplomasi. Samudra Pasifik ditegaskan berfungsi sebagai jalur tol ekonomi yang menghubungkan pasar Indonesia dan Rusia secara langsung guna mendongkrak kesejahteraan rakyat kedua belah pihak. (BPMI SETPRES)
Penulis Ambok Akok
Lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Utama sejak 2018 dan Juara III Lomba Menulis Kemaritiman yang ditaja UPN Veteran Yogyakarta dan Dubes Konsulat Amerika Serikat di Medan pada tahun 2021.

Saat ini belum ada komentar