Wagub Kepri Dorong Salak Bintan Jadi Komoditas Unggulan, Petani Diminta Naik Kelas
- account_circle Basok Ridwan
- calendar_month 16 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura meninjau perkebunan Salak Sari Intan di Jalan Bumi Indah Gesek KM 25, Kabupaten Bintan, Senin (12/10/2026). F- Basok/BAcaDulu.id
BINTAN,
– Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, mendorong pengembangan perkebunan Salak Sari Intan di Kabupaten Bintan agar menjadi salah satu komoditas hortikultura unggulan yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Dorongan tersebut disampaikan Nyanyang saat meninjau Perkebunan Salak Sari Intan di Jalan Bumi Indah Gesek KM 25, Kabupaten Bintan, Senin (12/10/2026). Dalam kunjungan itu, Nyanyang yang juga menjabat Ketua HKTI Provinsi Kepri berdialog langsung dengan petani untuk mengetahui potensi, kendala, serta kebutuhan pengembangan perkebunan.
Menurut Nyanyang, potensi pertanian lokal di Kepulauan Riau perlu dikembangkan secara serius agar tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar daerah, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Perkebunan salak di Bintan menjadi salah satu contoh usaha pertanian yang berpeluang dikembangkan lebih luas apabila mendapat pendampingan dan dukungan yang tepat.
Ia mengapresiasi para petani yang terus mengembangkan komoditas lokal di tengah tantangan pertanian wilayah kepulauan, mulai dari perubahan cuaca, curah hujan yang tidak menentu, hingga kondisi tanah yang memerlukan teknik budidaya khusus.
“Keberhasilan mengembangkan Perkebunan Salak Sari Intan ini bukan sekadar urusan bercocok tanam biasa. Ini merupakan bukti bahwa dengan dedikasi, disiplin, dan inovasi, tanah Bintan mampu menghasilkan buah unggulan yang membanggakan,” ujar Nyanyang.
Ia menilai, pengembangan komoditas pertanian tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan petani dalam membudidayakan tanaman. Dukungan pemerintah, pendampingan penyuluh, akses terhadap bibit berkualitas, serta strategi pemasaran yang tepat juga diperlukan agar hasil panen memiliki daya saing dan memberikan keuntungan yang lebih baik.
Karena itu, Nyanyang menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), kelompok tani, penyuluh pertanian, dan pelaku usaha agribisnis. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat pembinaan petani sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pertanian yang berkelanjutan.
“HKTI tidak boleh hanya sekadar nama. HKTI harus menjadi wadah pembinaan yang profesional, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian modern,” tegasnya.
Dalam dialog bersama petani, berbagai aspirasi dan persoalan di lapangan menjadi perhatian. Nyanyang berharap komunikasi antara petani dan pemerintah terus diperkuat sehingga kebutuhan nyata di tingkat perkebunan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun program pembinaan maupun dukungan sektor pertanian.
Ia juga mendorong agar perkebunan Salak Sari Intan dapat menjadi tempat pembelajaran bagi kelompok tani lainnya. Melalui kegiatan kunjungan lapangan dan studi tiru, petani dapat saling berbagi pengalaman mengenai teknik budidaya, perawatan tanaman, hingga penanganan pascapanen yang lebih profesional.
Selain meningkatkan produktivitas, Nyanyang melihat pengembangan perkebunan salak memiliki peluang untuk mendukung diversifikasi sumber pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan buah dari luar daerah. Namun, upaya tersebut perlu disertai peningkatan kualitas produksi, kesinambungan pasokan, dan perluasan akses pasar.
Potensi perkebunan juga dapat dikembangkan melalui konsep agrowisata. Jika dikelola secara terencana, perkebunan produktif tidak hanya menghasilkan buah untuk dijual, tetapi juga dapat menjadi destinasi edukasi dan wisata pertanian.
Pengembangan agrowisata berpeluang menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi petani serta menggerakkan sektor pendukung, seperti kuliner, transportasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan demikian, manfaat ekonomi dari pertanian dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat sekitar.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Nyanyang meminta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri bersama jajaran HKTI memperkuat pendampingan teknis, dukungan bibit unggul, serta pelatihan pemasaran digital bagi petani.
“Jangan biarkan petani kita berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan iklim dan persaingan pasar yang semakin dinamis. Pendampingan dan dukungan yang berkelanjutan sangat diperlukan agar produk pertanian lokal semakin berkualitas dan mampu bersaing,” katanya.
Nyanyang berharap Perkebunan Salak Sari Intan dapat berkembang menjadi salah satu model pengembangan hortikultura di Kepulauan Riau.
Menurutnya, potensi pertanian lokal perlu dikelola secara konsisten agar mampu menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Kunjungan tersebut turut dihadiri Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Kepri, Nenny Dwiyana Nyanyang, Ketua DPC HKTI Bintan, Ketua Asosiasi Petani Salak Sari Intan Bintan (APSSI-BINTAN), serta Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bintan.
Penulis Basok Ridwan
Ia merupakan seorang jurnalis muda multitalenta yang saat ini aktif bergerak di bawah bendera BacaDulu.id. Dengan wilayah liputan strategis di Kepulauan Riau, ia berdedikasi menyajikan analisis tajam terkait kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga dinamika politik lokal. Profesionalisme dan integritasnya di ruang redaksi semakin kukuh setelah resmi mengantongi sertifikat kompetensi Wartawan Muda sejak 4 September 2026.

Jadikan




Saat ini belum ada komentar