Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Berita » Kesehatan » Kabut Asap Selimuti Tanjungpinang dan Bintan, Masker Medis Belum Cukup Lindungi Paru-Paru

Kabut Asap Selimuti Tanjungpinang dan Bintan, Masker Medis Belum Cukup Lindungi Paru-Paru

  • account_circle Melly
  • calendar_month 17 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tanjungpinang, – Kabut asap yang menyelimuti Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, dalam beberapa hari terakhir menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan, namun tidak semua jenis masker efektif menangkal partikel berbahaya yang terkandung dalam asap.

Masker medis tiga lapis yang umum digunakan masyarakat memiliki keterbatasan dalam menyaring partikel halus, terutama particulate matter 2.5 (PM2.5), yang dapat terhirup hingga ke bagian dalam paru-paru.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi kabut asap yang mencapai Pulau Bintan sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan dari luar daerah, khususnya wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani, mengungkapkan bahwa sebaran asap tersebut telah memengaruhi kondisi udara dan menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah menurun hingga berkisar satu sampai tiga kilometer.

“Kondisi penurunan jarak pandang ini berkaitan dengan keberadaan kabut asap dari luar daerah,” kata Rizqi, Rabu (7/10/2026).

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kualitas udara sebelum menjalankan aktivitas, terutama di luar ruangan.

“Pantau terus perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, termasuk menggunakan masker yang sesuai sebagai langkah perlindungan terhadap dampak penurunan kualitas udara,” ujarnya.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa masker medis biasa tidak dirancang untuk memberikan perlindungan optimal terhadap partikel halus dari asap kebakaran hutan.

Masker medis cenderung memiliki celah di sekitar hidung dan pipi sehingga udara yang mengandung partikel polusi masih dapat masuk tanpa melewati lapisan penyaring.

Untuk perlindungan lebih baik, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) merekomendasikan penggunaan respirator N95 yang memenuhi standar sertifikasi dan terpasang rapat pada wajah.

Respirator N95 mampu menyaring sedikitnya 95 persen partikel uji dalam kondisi pengujian standar. Masker KN95 dan FFP2 yang memenuhi standar kualitas juga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat.

Meski demikian, respirator N95 tidak mampu menyaring seluruh kandungan berbahaya dalam asap, terutama gas seperti karbon monoksida. Karena itu, penggunaan masker tetap perlu dibarengi dengan pembatasan aktivitas di luar ruangan.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan kabut asap.

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan respirator yang sesuai, sementara kegiatan fisik berat sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara memburuk.

Dengan demikian, penggunaan masker medis bukan berarti tidak bermanfaat. Namun, untuk menghadapi kabut asap, respirator N95 yang memenuhi standar dan digunakan dengan benar menjadi pilihan yang lebih tepat dalam mengurangi paparan partikel berbahaya.

  • Penulis: Melly

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less