Sentuhan Hati KJK Buat Sahabat
- account_circle Suyono Saeran
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suyono Saeran
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gang di samping SPBU Batu Hitam Kota Tanjungpinang itu terasa lengang. Jam menunjukkan 13.30 WIB. Matahari masih terasa menyengat di atas kepala. Kami berlima (Saya, Ady Indra Pawennari, Bang Ridarman Bay, Amril dan Ambok Akok) dengan jalan kaki menyusuri gang itu untuk menemui salah seorang sahabat yang begitu lama tidak pernah jumpa.
Dulu dia seorang jurnalis yang karyanya cukup memberi warna. Berbagai tulisannya menjadi inspirasi banyak orang. Idealismenya sebagai seorang jurnalistik yang gigih dan pantang menyerah saat itu begitu kuat.
Dia adalah Trisno Aji Putra. Tidak hanya seorang jurnalis yang produktif. Trisno Aji Putra juga merupakan seorang penulis buku 77 Sosok Terkemuka Kepri dan Suara Dari Perbatasan.
Sahabat lama yang sama-sama berjuang itu sekarang dalam kondisi tidak berdaya. Tangan kanan dan kaki kanannya tidak bisa digerakkan. Dirinya hanya bisa duduk dan terbaring di tempat tidur kecil dan sederhana.
Adalah sebuah kecelakaan 8 tahun yang lalu, yang membuatnya kehilangan semuanya. Sejak itu tulisan cerdasnya tidak ada lagi menghiasi media masa. Pemikiran-pemikiran tentang Kepulauan Riau ke depan yang kerap dia tuangkan lewat karya jurnalistiknya juga ikut sunyi. Sesunyi sofa tempat tidur yang begitu setia menemaninya hingga kini. Namun dia beruntung dihadiahi istri setia merawat dan keluarga yang mencintainya.
Namun, siang tadi, kesunyian itu seolah seperti pecah. Ketika kami datang bukan membawa apa-apa yang istimewa. Hanya langkah kaki, sapaan, cerita lama, dan pelukan hangat kerinduan yang selama bertahun-tahun tertahan.
Di depan pintu rumahnya yang berwarna putih, kami berhenti sejenak. Ada rasa haru yang sulit diterjemahkan menjadi kata-kata. Rumah yang letaknya di paling ujung gang itu seolah juga menjadi saksi bisu sebuah kehampaan yang begitu lama dia rasakan.
Ketika akhirnya berjumpa, tatapan mata sahabat lama itu seolah berkata banyak hal. Ada bahagia karena masih diingat. Ada rasa haru karena orang-orang yang pernah berjalan bersamanya kembali hadir. Ucapan alhamdulillah berkali-kali mengalir dari bibirnya yang kering.
Dia peluk kami bergantian. Air matanya menetes. Namun wajah cerianya juga tergambar jelas. Luka kesunyian yang selama ini dipendam sendirian seolah terasa terobati dan hilang.
Kami duduk mengelilinginya. Percakapan pun mengalir, membawa kami kembali ke masa ketika kami masih sama-sama sibuk dengan dunia jurnalistik. Mengejar berita, berdiskusi tentang masa depan daerah, berdebat tentang idealisme, dan sesekali tertawa atas hal-hal kecil yang kini terasa begitu berharga.
Delapan tahun ternyata tidak mampu menghapus persahabatan. Tubuhnya mungkin tak lagi mampu bergerak sebebas dulu. Tangannya mungkin tak lagi lincah menulis berita dan pikirannya tak lagi dituangkan melalui halaman-halaman media massa.
Tetapi bagi kami, seorang sahabat tidak pernah diukur dari seberapa kuat tubuhnya, seberapa banyak karya yang masih dihasilkannya, atau seberapa jauh langkah yang mampu ditempuhnya.
Kami datang untuk mengatakan satu hal: kamu tidak pernah benar-benar sendirian.
Di luar sana, mungkin dunia terus bergerak. Berita berganti setiap menit. Nama-nama baru bermunculan. Media berubah. Teknologi berkembang. Tetapi kenangan tentang orang-orang yang pernah berjuang bersama akan selalu menemukan tempatnya sendiri.
Siang itu, gang di samping SPBU Batu Hitam memang lengang. Matahari begitu terik. Namun di sebuah rumah sederhana, kami berlima menemukan kembali sebuah persahabatan yang sempat terpisah oleh waktu.
Kami pulang dengan perasaan yang berbeda. Bukan karena melihat seorang sahabat dalam keterbatasannya, tetapi karena menyadari bahwa persahabatan sejati tidak mengenal batas waktu, keadaan, dan jarak.
Sebelum berpamitan, Ady Indra Pawennari atas nama Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) memberikan bantuan padanya. Bukan soal besarnya. Bukan juga soal kuantitasnya. Kepedulian memang harus diasah untuk mereka yang membutuhkan.
Dan mungkin, setelah delapan tahun sunyi, hari itu adalah satu halaman baru bagi dirinya. Sebuah halaman yang tidak ditulis dengan tinta. Tetapi ditulis oleh rasa peduli, kenangan, dan persahabatan yang hakiki.
Semoga lekaslah sembuh Trisno Aji Putra. Doa dari kami tetap terus mengalir buatmu.


Saat ini belum ada komentar