Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Berita » Kepulauan Riau » Tanjungpinang » Silaturahmi Wartawan Tanjungpinang, Romantisme 1994 dan Semangat 2026

Silaturahmi Wartawan Tanjungpinang, Romantisme 1994 dan Semangat 2026

  • account_circle Amril Agin
  • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

TANJUNGPINANG, – Zaman boleh berubah, teknologi boleh berganti, tetapi secangkir kopi dan obrolan hangat tetap punya cara tersendiri untuk merawat persaudaraan wartawan.

Suasana itulah yang terasa ketika sekitar 30 wartawan dari berbagai organisasi dan perusahaan pers berkumpul di Kedai Kopi Mie Tarempa, Batu 7, Tanjungpinang, Selasa 20 Oktober 2026.

Tanpa podium, sambutan resmi, maupun sekat organisasi, mereka duduk bersama dalam coffee morning yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 12.00 WIB.

Diprakarsai wartawan senior Kepri, Ady Indra Pawennari, pertemuan itu menjadi ruang silaturahmi lintas generasi.

Sekitar tiga puluh wartawan berkumpul di kedai kopi Tarempa, Tanjungpinang

Suasana silaturahmi wartawan dalam acara coffee morning di Kedai Kopi Mie Tarempa, Batu 7, Tanjungpinang, Selasa (20/10/2026). (Foto: Basok/)

Hadir di antaranya Suyono Saeran, Sigit Rahmat, Nizamul Akhyar, Khairul, Ambok Akok, Chalima Chalik, Novendra, Roland, Richard Batubara, Tengku Azhar, Sunarto Butar-Butar, Agus Sandra, dan sejumlah wartawan lainnya.

Di antara mereka, tersimpan cerita perjalanan jurnalistik dari zaman yang berbeda. Ada yang telah puluhan tahun bergelut dengan dunia pers, ada pula yang baru memulai langkahnya.

Bagi Ridarman Bay, yang memulai karier jurnalistik pada 1994, dunia pers menyimpan romantisme yang tak mudah dilupakan. Kala itu, berita lekat dengan kertas, mesin ketik, catatan lapangan, dan kesabaran menunggu tulisan diterbitkan. Mencari informasi berarti menyusuri jalan, menemui narasumber, serta merangkai fakta dengan ketekunan dan tanggung jawab.

Di tengah segala keterbatasan, persahabatan tumbuh di sela-sela peliputan. Kedai kopi menjadi tempat bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan menguatkan sesama ketika perjalanan profesi tak selalu mudah.

Tiga puluh dua tahun kemudian, Basok Ridwan memulai karier jurnalistiknya pada September 2026. Ia memasuki dunia pers yang serba digital, ketika berita dapat menjangkau publik dalam hitungan detik.

Dua generasi itu berada pada zaman berbeda. Namun, keduanya bertemu pada nilai yang sama, kejujuran, ketelitian, integritas, dan tanggung jawab kepada publik.

Pengalaman generasi senior adalah warisan berharga, sementara semangat generasi baru menjadi energi untuk menghadapi perubahan. Keduanya perlu saling belajar, bukan saling menjauh.

Penggagas pertemuan, Ady Indra Pawennari mengatakan, pertemuan tersebut murni untuk mempererat silaturahmi. Gagasannya muncul setelah sejumlah wartawan menanyakan kapan mereka bisa duduk bersama sambil menikmati kopi.

“Ada beberapa wartawan yang nanya ke saya kapan kita ngopi. Ya sudah, sekalian saja kita adakan ngopi bareng,” ujar Ady.

Obrolan pun mengalir tanpa susunan acara yang kaku. Cerita peliputan, romantika berorganisasi, suka duka menjadi wartawan, hingga pentingnya menjaga integritas menjadi bahan perbincangan. Gelak tawa sesekali pecah, mencairkan perbedaan usia, pengalaman, dan latar belakang organisasi.

Di meja kopi itu, semua hadir sebagai sesama insan pers. Tak ada sekat antara wartawan senior dan junior, tak ada jarak karena perbedaan organisasi. Yang tersisa hanyalah persaudaraan dan keinginan untuk saling mendengar.

Pertemuan sederhana tersebut mengingatkan bahwa silaturahmi tak selalu membutuhkan forum resmi atau agenda besar. Terkadang, waktu, secangkir kopi, dan kemauan untuk saling menyapa sudah cukup untuk menjaga keakraban.

Menjelang acara berakhir, seorang wartawan melontarkan celetukan yang mengundang senyum.

“Kalau tak peran Bang Ady selaku senior, tak bakalan kita bisa ngopi bareng nih,” ujarnya, disambut anggukan rekannya.

Kalimat spontan itu menjadi penutup yang menghangatkan pertemuan. Ada penghargaan kepada sosok yang membuka ruang kebersamaan, sekaligus pengingat bahwa persaudaraan perlu dirawat, bukan sekadar dikenang.

Dari perjalanan Ridarman Bay sejak 1994 hingga langkah awal Basok Ridwan pada September 2026, dunia jurnalistik telah berubah. Tinta berganti layar digital, tetapi semangat menjaga kebenaran tak boleh ikut luntur.

Pagi itu, di Kedai Kopi Mie Tarempa, masa lalu menemukan ruang untuk dikenang, generasi kini berbagi pengalaman, dan masa depan memperoleh semangat baru.

Sebab, sebelum menjadi penulis berita, setiap wartawan adalah saudara seperjalanan. Dan di antara secangkir kopi serta cerita yang mengalir, silaturahmi menjadi jembatan yang menyatukan generasi, melampaui perbedaan organisasi, usia, dan zaman.

Penulis

Amril Agin memulai perjalanan karier jurnalistiknya sejak tahun 2002 melalui berbagai media, seperti Harian Sijori Mandiri, Koran Peduli, serta portal berita daring mediakepri.com, sijorikepri.com, dan radarbintan.com. Berbekal pengalaman panjang di dunia pers, ia kini dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less