Ketika Langkah Aji Terhenti, Persahabatan Terus Berjalan
- account_circle Amril Agin
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dulu, Aji terbiasa datang membawa cerita. Sebagai wartawan Tribun Batam, hari-harinya diisi dengan mencari fakta, menemui banyak orang, dan menuliskan berbagai peristiwa yang terjadi di sekelilingnya.
Kini keadaannya berbalik. Bukan lagi Aji yang mendatangi cerita. Justru cerita tentang dirinya yang membuat sejumlah sahabat lama datang mencarinya.
Sudah hampir delapan tahun tubuh Trisno Aji Putra tak mampu diajak berdiri seperti dahulu. Sebagian besar waktunya dilewati di atas tempat tidur, ditemani keluarga yang setia merawatnya.
Kami datang sebagai sesama orang yang pernah merasakan kerasnya kehidupan jurnalistik.
Ady Indra Pawennari, Suyono Saeran, Ridarman Bay, dan saya, akhirnya duduk di dekat Aji. Tidak ada agenda redaksi. Tidak ada pertanyaan untuk mengejar berita. Tidak ada deadline. Hanya ada cerita kenangan.
Percakapan pun mengalir seadanya. Nama-nama lama disebut. Masa lalu sedikit demi sedikit dibuka kembali. Di antara keterbatasan tubuhnya, Aji berusaha mengikuti percakapan dengan kemampuan yang tersisa.
Ada rasa haru yang sulit disembunyikan. Sebab delapan tahun adalah waktu yang panjang. Terlalu panjang untuk sebuah keluarga menyaksikan orang yang dicintainya hidup dalam keterbatasan.
Ibunya bercerita, Aji pernah menjalani terapi. Namun rasa sakit yang dirasakan begitu berat. Setiap menjalani terapi, Aji bahkan kerap menjerit kesakitan. Keluarga akhirnya memilih menghentikannya.
Bukan karena mereka tidak ingin Aji sembuh. Tetapi ada titik ketika kasih sayang membuat seseorang tak sanggup lagi melihat orang yang dicintainya terus menanggung sakit.
Kemungkinan Aji untuk kembali pulih seperti dahulu, kata sang ibu, memang sangat kecil.
Tetapi kehidupan tidak selalu berbicara tentang kemungkinan. Kadang ia berbicara tentang kesetiaan. Tentang seorang ibu yang tetap merawat anaknya.
Tentang keluarga yang tetap bertahan. Dan tentang kawan-kawan yang, setelah sekian lama, masih menyempatkan diri datang mengetuk pintu.
Di tengah obrolan, sang ibu juga mengingat satu nama yaitu Ing Iskandarsyah, yang kini menjabat Bupati Karimun.
Menurutnya, perhatian Ing Iskandarsyah kepada Aji sudah berlangsung sejak ia masih menjadi Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau. Ia disebut beberapa kali datang menjenguk.
Cerita sederhana itu terasa penting. Sebab manusia sering kali tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa berarti.
Kadang cukup tahu bahwa masih ada orang yang mengingat namanya. Aji mungkin sudah lama meninggalkan ruang redaksi.
Sudah lama tidak mengejar narasumber. Sudah lama tidak menulis berita. Tetapi rupanya, dunia yang pernah ia jalani tidak sepenuhnya meninggalkannya.
Hari itu, kami datang bukan untuk mengubah keadaan Aji dalam sekejap. Kami datang untuk mengatakan bahwa perjalanan yang pernah ditempuh bersama tidak hilang begitu saja hanya karena waktu.
Dulu Aji mencari manusia untuk menjadi sumber berita. Hari ini, kami datang mencari Aji. Dan mungkin, itulah salah satu hal paling indah dalam persahabatan yaitu ketika seseorang sudah tidak mampu melangkah mendatangi kita, kitalah yang memilih untuk melangkah mendatanginya.
Penulis Amril Agin
Amril Agin memulai perjalanan karier jurnalistiknya sejak tahun 2002 melalui berbagai media, seperti Harian Sijori Mandiri, Koran Peduli, serta portal berita daring mediakepri.com, sijorikepri.com, dan radarbintan.com. Berbekal pengalaman panjang di dunia pers, ia kini dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).


Jadikan 
Saat ini belum ada komentar