Kepri Perluas Peluang Investasi UEA, Batam Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama
- account_circle Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura membahas kerja sama ekonomi dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri di kediaman dinas Dubes UEA, Jakarta Selatan, Kamis (08/10/2026).
Jakarta,
– Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri) menjajaki penguatan kerja sama ekonomi dengan Uni Emirat Arab (UEA) untuk membuka peluang investasi baru, terutama di Batam. Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia Abdulla Salem AlDhaheri di kediaman dinas Dubes UEA, Jakarta Selatan, Kamis (8/10/2026).
Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya Pemprov Kepri memperluas kemitraan dengan investor internasional, sekaligus mendorong pengembangan sektor-sektor usaha potensial di daerah. Pembahasan turut mencakup hubungan bilateral Indonesia–UEA dan perkembangan investasi IFFCO Group, perusahaan asal UEA yang telah menjalankan usaha di Batam.
Nyanyang mengatakan, Kepri memiliki posisi strategis dalam perdagangan dan investasi internasional. Karena itu, pemerintah daerah berupaya menjaga iklim usaha tetap kondusif serta meningkatkan kemudahan pelayanan bagi investor yang ingin mengembangkan bisnisnya di wilayah tersebut.
“Kepri memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang investasi dan perdagangan internasional. Kami terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif serta memberikan kemudahan pelayanan kepada investor, termasuk dari Uni Emirat Arab, agar investasi yang masuk dapat memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan masyarakat Kepri,” ujar Nyanyang.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi UEA juga diwakili Duta Besar UEA untuk ASEAN Mohammed Ahmed Mohamed Bandouq AlQamzi. Turut hadir Direktur Grup Global sekaligus Direktur Urusan Korporasi dan Pengembangan Bisnis IFFCO, Abdelghani Abdullah, serta Kepala Urusan Ekonomi Kedutaan Besar UEA di Jakarta, Meera AlAzeezi.
Nyanyang didampingi Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kepri Hasfarizal Handra serta Kepala Bagian Administrasi Keuangan dan Aset Biro Umum Sekretariat Daerah Kepri Suharyanto.
Salah satu perhatian dalam pembicaraan tersebut adalah keberadaan IFFCO Group yang telah beroperasi di Batam melalui PT Synergy Oil Nusantara. Perusahaan ini menjalankan fasilitas pemurnian minyak makan di kawasan Kabil, Nongsa, yang menjadi bagian dari aktivitas industri di wilayah tersebut.
Hubungan investasi itu sebelumnya juga terlihat saat Abdulla Salem AlDhaheri mengunjungi Batam pada 2 Juli 2025 untuk meninjau langsung fasilitas pengolahan tersebut. Dalam kunjungan itu, IFFCO disebut sebagai salah satu investor sekaligus pembayar pajak terbesar di Batam.
Pihak UEA kala itu juga menyampaikan minat untuk menjajaki peluang investasi pada sektor infrastruktur, energi, teknologi, dan pariwisata. Minat tersebut menjadi peluang bagi Kepri untuk memperluas kerja sama di luar sektor usaha yang telah berjalan.
Nyanyang menilai, keberadaan investasi yang sudah berkembang dapat menjadi landasan untuk membangun kemitraan yang lebih luas. Pemerintah daerah berharap kerja sama berikutnya tidak hanya meningkatkan nilai penanaman modal, tetapi juga memberi dampak terhadap industri lokal dan penyerapan tenaga kerja.
“Kami ingin investasi yang berkembang di Kepri tidak hanya meningkatkan nilai investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industri lokal, serta mendorong keterlibatan pelaku usaha dan tenaga kerja daerah,” katanya.
Peluang kerja sama tersebut berlangsung di tengah momentum 50 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan UEA. Penguatan kemitraan ekonomi kedua negara juga tercermin dalam pertemuan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dengan Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2026, yang membahas peningkatan investasi UEA di Indonesia.
Kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara turut memiliki landasan melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–UEA atau Indonesia–United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-UAE CEPA), yang berlaku sejak 1 September 2023.
Pada Januari–Juni 2026, total perdagangan Indonesia dan UEA tercatat mencapai USD 3,14 miliar. Nilai tersebut terdiri atas ekspor Indonesia sebesar USD 1,76 miliar dan impor USD 1,38 miliar.
Kepri dinilai memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam perkembangan hubungan ekonomi tersebut. Selain letaknya yang strategis, Batam mempunyai fasilitas Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang mendukung kegiatan perdagangan, industri, dan investasi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani sebelumnya menyebut Kepri termasuk tiga wilayah di luar Jawa yang paling diminati investor asing pada semester I 2026. Pada periode yang sama, realisasi investasi di Batam dilaporkan mencapai Rp40 triliun, seiring pertumbuhan ekonomi sebesar 7,28 persen.
Capaian tersebut menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk memperkuat daya saing Kepri di tengah persaingan menarik investasi global. Namun, peluang itu juga perlu diikuti dengan pelayanan perizinan yang efektif dan keterlibatan dunia usaha lokal agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas.
Melalui DPMPTSP, Pemprov Kepri terus mendorong pelayanan penanaman modal secara terpadu bagi investor asing maupun domestik. Pemerintah daerah berharap komunikasi dengan UEA dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret, memperluas investasi di berbagai sektor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kepri.
Penulis Redaksi
Tim Redaksi BacaDulu.id berkomitmen menyajikan informasi aktual, tajam, dan tepercaya. Menyuguhkan ragam berita pilihan seputar dinamika ekonomi, perkembangan bisnis, tren wisata, hingga isu-isu strategis nasional dan global untuk memenuhi kebutuhan referensi pembaca cerdas.

Jadikan





Saat ini belum ada komentar