Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Berita » Kesehatan » Sulit Mengendalikan Dorongan Seksual? Kenali Perilaku Seksual Kompulsif dan Cara Menanganinya

Sulit Mengendalikan Dorongan Seksual? Kenali Perilaku Seksual Kompulsif dan Cara Menanganinya

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Perilaku seksual merupakan bagian dari kehidupan manusia. Namun, ketika dorongan, fantasi, atau aktivitas seksual terasa sulit dikendalikan dan mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, kesehatan maupun kehidupan sosial, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai compulsive sexual behavior disorder (CSBD) atau gangguan perilaku seksual kompulsif. Istilah seperti “kecanduan seks” atau “hiperseksualitas” juga kerap digunakan untuk menggambarkannya.

Yang perlu dipahami, CSBD bukan sekadar soal seberapa sering seseorang melakukan aktivitas seksual. Persoalan utamanya adalah hilangnya kendali terhadap dorongan atau perilaku tersebut serta dampak negatif yang ditimbulkannya.

Bukan Sekadar Libido Tinggi

Seseorang yang memiliki hasrat seksual tinggi belum tentu mengalami gangguan perilaku seksual kompulsif.

Kondisi ini lebih mengarah pada pola ketika seseorang berulang kali mencoba mengurangi atau menghentikan perilaku seksual, tetapi kesulitan melakukannya. Aktivitas tersebut kemudian menyita banyak waktu, mengganggu pekerjaan atau hubungan, bahkan tetap dilakukan meskipun sudah menimbulkan konsekuensi negatif.

Beberapa orang juga menggunakan perilaku seksual sebagai cara untuk menghadapi stres, kecemasan, depresi atau masalah emosional lainnya. Riwayat trauma juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan, meski penyebab CSBD tidak dapat disederhanakan pada satu faktor saja.

Ciri-Ciri Perilaku Seksual Kompulsif

Tidak ada satu daftar gejala yang dapat digunakan untuk mendiagnosis seseorang secara mandiri. Namun, sejumlah pola perilaku dapat menjadi tanda seseorang perlu berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Di antaranya:

* Pikiran atau fantasi seksual terus-menerus menyita perhatian.
* Sulit mengendalikan dorongan untuk melakukan aktivitas seksual.
* Berulang kali mencoba mengurangi atau menghentikan perilaku tersebut tetapi gagal.
* Penggunaan pornografi atau masturbasi menjadi sulit dikendalikan.
* Memiliki perilaku seksual dengan pasangan yang berganti-ganti atau berisiko.
* Aktivitas seksual menghabiskan banyak waktu hingga mengganggu pekerjaan, pendidikan atau kehidupan sosial.
* Tetap melakukan perilaku seksual meskipun sudah menimbulkan masalah dalam hubungan, pekerjaan atau kesehatan.
* Menyembunyikan perilaku seksual karena merasa kehilangan kendali atau khawatir dengan konsekuensinya.
* Dorongan seksual semakin sering atau semakin sulit dikendalikan.
* Mengalami rasa bersalah, stres, kecemasan atau tekanan setelah melakukan perilaku tersebut.

Perilaku yang melibatkan paksaan, pelecehan, eksploitasi, hubungan dengan anak, atau aktivitas seksual tanpa persetujuan bukan sekadar persoalan kesehatan mental dan dapat merupakan tindakan melanggar hukum. Keselamatan serta persetujuan orang lain tetap menjadi batas yang tidak boleh dilanggar.

Apa Penyebabnya?

Penyebab gangguan perilaku seksual kompulsif belum sepenuhnya dipahami. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kondisi psikologis, pola perilaku, pengalaman hidup, serta masalah kesehatan mental lainnya.

Pada sebagian orang, perilaku seksual kompulsif dapat muncul bersamaan dengan kecemasan, depresi, penggunaan alkohol atau narkoba, maupun masalah psikologis lainnya. Karena itu, pemeriksaan perlu dilakukan secara menyeluruh untuk mengetahui faktor yang mendasarinya.

Bagaimana Cara Menanganinya?

Gangguan perilaku seksual kompulsif dapat ditangani. Tujuan terapi bukan menghilangkan kehidupan seksual seseorang, melainkan membantu mengembalikan kemampuan mengendalikan dorongan, mengurangi perilaku yang merugikan, serta membangun pola hidup dan hubungan yang lebih sehat.

1. Psikoterapi

Psikoterapi menjadi salah satu pendekatan utama dalam penanganan kondisi ini.

Terapi dapat membantu seseorang mengenali pemicu perilaku, memahami pola pikir dan emosinya, serta mempelajari cara menghadapi dorongan seksual tanpa harus mengikuti setiap dorongan yang muncul.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah cognitive behavioral therapy (CBT). Terapi lain, seperti acceptance and commitment therapy maupun terapi berbasis mindfulness, juga dapat digunakan sesuai kebutuhan pasien.

2. Obat-obatan

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan penggunaan obat sebagai bagian dari penanganan, terutama bila terdapat gangguan lain yang menyertai.

Beberapa obat yang digunakan dalam praktik klinis antara lain antidepresan tertentu dan naltrexone. Namun, tidak ada satu obat khusus yang disetujui untuk semua kasus CSBD, sehingga pemilihan obat harus dilakukan oleh dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Karena itu, obat seperti fluoxetine, paroxetine, naltrexone maupun obat lain tidak boleh dikonsumsi sendiri tanpa pemeriksaan dan resep dokter.

3. Mengenali Pemicu

Selain menjalani terapi, seseorang dapat dibantu untuk mengenali situasi, pikiran atau emosi yang biasanya memicu dorongan seksual.

Membatasi akses terhadap konten pornografi, menghindari situasi berisiko, mengelola stres, memperbaiki pola tidur dan menjalani aktivitas yang lebih sehat dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan perilaku.

Kapan Harus Mencari Bantuan?

Tidak perlu menunggu sampai masalah menjadi semakin berat.

Jika dorongan atau perilaku seksual sudah sulit dikendalikan, mengganggu pekerjaan dan hubungan, menimbulkan tekanan emosional, menyebabkan perilaku berisiko, atau seseorang berkali-kali gagal menghentikannya meski sudah berusaha, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang memiliki pengalaman menangani masalah perilaku seksual kompulsif.

Penanganan yang tepat bukan bertujuan menghakimi seseorang karena dorongan seksualnya. Fokusnya adalah membantu orang tersebut mendapatkan kembali kendali atas perilakunya dan mencegah dampak yang lebih serius terhadap dirinya maupun orang lain.

Catatan: Diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan jumlah aktivitas seksual atau tingginya libido. Penilaian harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan melihat pola perilaku, kemampuan mengendalikan dorongan, serta dampaknya terhadap kehidupan seseorang.

Sumber: Alodokter

Penulis

Tim Redaksi BacaDulu.id berkomitmen menyajikan informasi aktual, tajam, dan tepercaya. Menyuguhkan ragam berita pilihan seputar dinamika ekonomi, perkembangan bisnis, tren wisata, hingga isu-isu strategis nasional dan global untuk memenuhi kebutuhan referensi pembaca cerdas.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less