Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Profile » Menapak Tiga Dekade, Ady Indra Pawennari Tak Berhenti Bertransformasi

Menapak Tiga Dekade, Ady Indra Pawennari Tak Berhenti Bertransformasi

  • account_circle Melly
  • calendar_month 21 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tiga Dekade Ady Indra Pawennari: Jatuh, Berubah, Lalu Tumbuh

Dari lumpur sawah Wajo, ia belajar tentang kerja, dari jalanan Kota Tanjungpinang ia belajar tentang keberanian, sementara dari dunia jurnalistik ia belajar bahwa sebuah kalimat kadang memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar tinta di atas kertas.

Ada manusia yang sepanjang hidupnya berjalan di satu garis lurus, tetapi Ady Indra Pawennari bukan salah satunya karena jalan hidupnya justru terbentuk dari banyak tikungan, dari sawah di Wajo menuju Tanjungpinang, dari ruang redaksi menuju dunia usaha, dari ancaman yang pernah membuatnya berdarah hingga ruang-ruang kebijakan tempat ia berbicara tentang masa depan industri.

Di antara semua perubahan itu ada satu benang merah yang tidak pernah benar-benar putus, yakni keinginannya untuk terus bergerak ketika keadaan memaksanya berhenti, sebab bagi Ady hidup bukan tentang mempertahankan satu identitas melainkan tentang menemukan cara agar pengalaman yang dimiliki tetap bisa berguna bagi orang lain.

“Kalau jalan yang kita tempuh berubah, bukan berarti kita harus berhenti. Kadang di jalan baru itu kita menemukan kesempatan yang lebih besar,” ucap Ady memandang perjalanan hidupnya.

Lahir di Wajo, Sulawesi Selatan, 14 April 1973, Ady tumbuh dari keluarga petani dan sejak kecil telah akrab dengan sawah, lumpur, musim panen serta ketidakpastian hasil pertanian, sebuah lingkungan yang mungkin terlihat sederhana tetapi justru memberinya pelajaran paling mendasar bahwa tidak ada hasil yang datang tanpa kerja.

Tahun 1994, ketika usianya baru 21 tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya dan merantau ke Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau membawa keberanian seorang anak muda yang belum memiliki banyak hal untuk dibanggakan.

Selain kemauan mencoba, dan kota yang semula hanya menjadi tempat mencari penghidupan itu perlahan berubah menjadi panggung panjang tempat hampir seluruh perjalanan hidupnya berlangsung.

Di Kota Tanjungpinang pula ia mulai menemukan jalannya di dunia jurnalistik, sebuah profesi yang pada masa itu tidak menawarkan kemewahan tetapi memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi seorang anak muda bernama Ady, yaitu kesempatan untuk melihat persoalan dari dekat, bertanya kepada mereka yang berkuasa dan menyuarakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar semua orang.

“Waktu muda, saya tidak terlalu banyak berpikir soal ke mana akhirnya akan sampai. Yang penting bekerja, belajar dan berani mencoba,” katanya dalam sebuah percakapan yang menggambarkan semangat masa mudanya.

Ia mulai menekuni jurnalistik pada pertengahan 1990-an dan kemudian bersentuhan dengan sejumlah media seperti SKM GeNTA, Suara Riau dan Sijori Mandiri sebelum mendirikan bintanpos.com pada 2001, sebuah langkah yang menunjukkan bahwa sejak awal ia tidak hanya ingin menjadi orang yang menulis berita tetapi juga ingin ikut membangun ruang bagi informasi berkembang.

Bintanpos.com lahir pada masa ketika media siber belum seperti sekarang, ketika internet masih terasa sebagai sesuatu yang baru dan belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, namun Ady sudah melihat ada masa depan di sana dan keberaniannya mengambil risiko membuat namanya kemudian tercatat dalam perjalanan awal media daring di Kepulauan Riau.

Di dunia jurnalistik itulah Ady mendapatkan pelajaran yang tidak mungkin ditemukan di bangku kuliah, bahwa berita bukan hanya mengenai siapa yang menulis dan siapa yang membaca, tetapi juga tentang keberanian mempertanggungjawabkan setiap kata ketika tulisan tersebut menyentuh kepentingan orang lain.

“Menulis itu mudah, tetapi mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis adalah bagian yang paling berat,” imbuh Ady.

Pelajaran itu datang dengan cara yang keras pada 1998 ketika Indonesia sedang berada dalam pusaran reformasi dan Ady menulis tentang praktik judi Sie Jie yang disebut masih marak di Kota Tanjungpinang, berita tersebut menjadi headline dan kemudian memicu serangan terhadap kantor tempatnya bekerja hingga sejumlah peralatan dirusak dan dirinya ikut menjadi sasaran.

Ady mengalami luka pada bagian wajah dan untuk sesaat rasa takut tentu menjadi sesuatu yang sangat nyata, tetapi pengalaman itu tidak membuatnya meninggalkan jurnalistik karena setelah ketakutan mereda, ia kembali melakukan pekerjaan yang sama, seolah ingin membuktikan bahwa ancaman mungkin dapat melukai tubuh tetapi tidak otomatis bisa membungkam seseorang yang sudah memilih jalan hidupnya.

Beberapa tahun kemudian ujian itu kembali datang ketika rumahnya di Jalan Sumatera, Tanjungpinang, dilempar bom molotov saat penghuni rumah sedang tidur, sebuah peristiwa yang membuat profesi wartawan terasa semakin mahal, karena kali ini yang dipertaruhkan bukan sekadar kenyamanan bekerja melainkan rasa aman keluarga.

Dari berbagai pengalaman Ady itu, kita bisa memahami bahwa keberanian Ady bukanlah keberanian seorang manusia yang tidak mengenal rasa takut, justru sebaliknya ia pernah mengalami ketakutan dan trauma, tetapi memilih untuk tidak menjadikan rasa takut sebagai penguasa atas keputusan-keputusan dalam hidupnya.

Profile Ady Indra Pawennari

Grafis Profile Ady Indra Pawennari

Ketika Wartawan Memilih Jalan Baru

Namun hidup tidak selalu meminta seseorang bertahan di tempat yang sama dan setelah melewati berbagai pengalaman di dunia pers, Ady kemudian memilih memasuki dunia usaha, bukan karena ingin menghapus masa lalu sebagai wartawan, tetapi karena ia menyadari bahwa pengalaman melihat berbagai persoalan dari dekat telah memberinya cara berpikir yang bisa digunakan untuk membaca peluang.

Dunia usaha menjadi arena baru baginya dan di sana karakter jurnalistiknya justru tetap terbawa, sebab ia terbiasa bertanya mengapa sesuatu harus berjalan dengan cara tertentu, siapa yang mendapatkan manfaat dan apakah sesuatu yang selama ini dianggap biasa sebenarnya menyimpan peluang yang lebih besar.

Cara berpikir semacam itu kemudian mempertemukannya dengan berbagai persoalan yang berada di antara bisnis, lingkungan dan sumber daya alam, termasuk sabut kelapa, lahan pascatambang hingga pasir kuarsa yang kelak membuat namanya semakin dikenal di tingkat nasional.

Dari Sabut Kelapa hingga Tanah Pascatambang

Pada 2018, Ady dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia atau AISKI, dan dalam perjalanan tersebut ia berbicara mengenai pemanfaatan teknologi sabut kelapa untuk membantu revegetasi lahan kritis serta lahan pascatambang.

Sekilas, dunia sabut kelapa mungkin tidak memiliki hubungan dengan dunia jurnalistik yang pernah digelutinya, tetapi jika dilihat lebih jauh ada satu pola yang sama, yakni ketertarikan Ady terhadap sesuatu yang sering dianggap sederhana tetapi sebenarnya memiliki potensi besar apabila dikelola dengan pengetahuan dan keberanian.

“Kadang sesuatu yang dianggap limbah justru menyimpan nilai kalau kita mau berpikir sedikit lebih jauh ya,” ujarnya, menggambarkan cara pandangnya terhadap berbagai potensi yang ada di sekitar.

Pola berpikir itu kemudian semakin terlihat ketika ia masuk ke dunia pasir kuarsa, sebab bagi Ady pasir bukan sekadar material yang diambil dari tanah lalu dijual, melainkan sumber daya yang memiliki rantai nilai panjang apabila Indonesia mampu membangun industri pengolahan dan hilirisasi di dalam negeri.

Pasir yang Mengubah Babak Kehidupan

Pada 2022, sejumlah pelaku usaha tambang kuarsa membentuk Himpunan Penambang Kuarsa Indonesia atau HIPKI dan Ady dipercaya menjadi Ketua Umum, sebuah posisi yang kemudian membawanya semakin sering berbicara mengenai tata kelola pertambangan, investasi, hilirisasi, lingkungan dan peningkatan nilai tambah mineral.

Di sinilah naluri wartawannya kembali muncul karena ia tidak berhenti pada pertanyaan berapa harga sebuah komoditas, tetapi mulai bertanya mengapa Indonesia harus menjual bahan mentah jika sebenarnya bisa mengolahnya sendiri, menciptakan industri, membuka lapangan pekerjaan dan membuat manfaat ekonominya tinggal lebih lama di dalam negeri.

“Kalau hanya menggali lalu menjual bahan mentah, nilai besarnya justru dinikmati di tempat lain. Kita harus berpikir bagaimana nilai tambahnya tinggal di Indonesia,” katanya.

Gagasan tersebut kemudian ia bawa ke berbagai ruang diskusi, termasuk dengan pelaku industri dan Kadin Indonesia, karena menurut cara pandangnya persoalan sumber daya alam tidak cukup dibicarakan hanya dari sisi tambang tetapi harus dilihat sebagai sebuah rantai ekonomi yang menghubungkan penambang, industri, teknologi, tenaga kerja, pasar dan masyarakat.

Pada 2025, Ady dikukuhkan sebagai pengurus Kadin Indonesia masa bakti 2024–2029 dan perjalanan tersebut menjadi salah satu tanda bahwa seorang wartawan daerah yang dahulu bekerja dari ruang redaksi, kini telah masuk ke ruang pembicaraan ekonomi yang jauh lebih luas.

Namun semakin tinggi seseorang berjalan, semakin penting pula untuk mengingat dari mana ia berangkat dan mungkin karena itulah di tengah kesibukan organisasi serta dunia usaha Ady tetap memiliki perhatian terhadap sesuatu yang sangat dekat dengan masa kecilnya, yaitu pertanian.

Sebuah Penghargaan yang Menandai Jejak Inovasi

Jauh sebelum namanya semakin lekat dengan pasir kuarsa dan berbagai agenda hilirisasi, perjalanan Ady di bidang inovasi telah lebih dahulu mendapat pengakuan di tingkat nasional, ketika pada 2015 MNC Media memberikan penghargaan dalam program Pahlawan Untuk Indonesia dan menempatkannya sebagai penerima kategori Pahlawan Inovasi Teknologi.

Penghargaan tersebut bukan sekadar tambahan dalam perjalanan panjangnya, tetapi menjadi penanda bahwa gagasan dan keberanian mencoba sesuatu yang baru memang telah menjadi bagian dari karakter Ady sejak jauh sebelum ia dikenal dalam berbagai organisasi dan dunia usaha.

Menariknya, penghargaan itu seperti menemukan sambungannya dalam perjalanan Ady setelahnya, sebab inovasi yang dahulu mendapat pengakuan terus menjadi cara berpikir ketika ia berbicara tentang lingkungan, pemanfaatan sumber daya, hilirisasi kuarsa hingga berbagai gagasan yang berangkat dari persoalan sederhana untuk mencari manfaat yang lebih besar.

Dari Batu ke Beras

Di belakang rumahnya Jalan Paviliun Nusantara di Kilometer 14, Kota Tanjungpinang, Ady pernah menanam padi di lahan pekarangan dan kisah tersebut mungkin terdengar sederhana jika hanya dilihat sebagai aktivitas bercocok tanam, tetapi bagi seseorang yang lahir dari keluarga petani Wajo, tanah selalu memiliki hubungan emosional yang lebih dalam daripada sekadar tempat berdiri.

ANTARA pernah memberitakan bagaimana Ady mencoba menanam padi di pekarangan rumah dan menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk sama sekali meninggalkan pertanian, sebuah gagasan yang sebenarnya sangat dekat dengan cara hidupnya sejak dulu, yakni mencari kemungkinan di tengah keterbatasan.

“Kalau kita menunggu punya lahan luas baru mulai bertani, mungkin kita tidak akan pernah mulai,” ujarnya dengan nada sederhana.

Pada 2026, ia kembali menunjukkan hal tersebut dengan memanfaatkan lahan sekitar 4 x 9 meter untuk menanam padi, seolah ingin mengatakan bahwa seseorang tidak harus menunggu memiliki sawah luas untuk mulai bertani karena kadang yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk memulai.

Di sinilah kisah padi itu menjadi lebih dari sekadar cerita tentang pertanian, sebab ia seperti cermin kecil dari seluruh perjalanan Ady, ketika ruang terbatas ia mencari cara memperluas kemungkinan, ketika keadaan tidak ideal ia mencari celah untuk tetap menghasilkan sesuatu dan ketika orang lain melihat keterbatasan ia justru melihat peluang.

Tiga Dekade Kemudian

Ada satu bagian dalam perjalanan Ady yang terasa seperti sebuah lingkaran yang akhirnya kembali bertemu, setelah puluhan tahun berada di dunia jurnalistik ia kembali memperoleh pengakuan profesional sebagai Wartawan Utama melalui Uji Kompetensi Wartawan pada September 2026.

Tiga dekade adalah waktu yang panjang dan bagi sebagian orang mungkin terlalu lama untuk mengejar sebuah pengakuan profesi, tetapi bagi Ady tiga dekade justru menjadi modal yang membuat pencapaian itu memiliki cerita karena ia datang bukan sebagai wartawan muda yang baru belajar mengenal dunia pers.

Ia datang membawa pengalaman panjang, pernah berada di ruang redaksi, pernah menghadapi ancaman, pernah meninggalkan dunia pers, kemudian membangun usaha dan organisasi sebelum akhirnya kembali menguatkan kompetensi jurnalistiknya.

Baginya, sertifikat tersebut tidak sekadar menjadi selembar bukti kompetensi, melainkan seperti tanda bahwa perjalanan panjang tidak pernah benar-benar sia-sia selama seseorang tetap bersedia belajar dan tidak menganggap dirinya sudah selesai.

“Belajar itu tidak punya batas usia. Selama masih mau belajar, berarti kita masih punya kesempatan untuk berkembang,” katanya.

Kembali ke Rumah yang Pernah Ditinggalkan

Pada November 2025, Komunitas Jurnalis Kepri atau KJK resmi dibentuk dan Ady dipercaya menjadi Ketua Umum, sebuah posisi yang jika dilihat sekilas mungkin hanya menjadi tambahan dalam daftar panjang aktivitas organisasinya tetapi sebenarnya menyimpan makna yang jauh lebih personal.

Seorang yang pernah merasakan kerasnya dunia pers kini kembali berada di dalamnya bukan hanya sebagai wartawan, tetapi sebagai seseorang yang memiliki kesempatan untuk ikut membangun ruang belajar dan meningkatkan kapasitas wartawan generasi berikutnya.

KJK kemudian membawa agenda sosial, peningkatan kapasitas dan profesionalisme jurnalis, termasuk pelaksanaan UKW, sehingga pengalaman panjang yang dahulu ditempa melalui tekanan lapangan kini dapat diwariskan melalui proses pembelajaran yang lebih terstruktur.

Dulu Ady adalah wartawan yang harus belajar banyak hal melalui pengalaman dan bahkan melalui luka, sementara hari ini ia berada pada posisi yang memungkinkan generasi setelahnya belajar dari pengalaman tersebut tanpa harus mengalami semua pahitnya perjalanan yang sama.

“Kalau pengalaman yang kita punya hanya disimpan sendiri, manfaatnya akan berhenti di kita. Tapi kalau dibagikan, mudah-mudahan bisa menjadi bekal bagi generasi berikutnya,” ujarnya.

Mungkin di situlah letak kedewasaan yang sesungguhnya, ketika pengalaman tidak lagi digunakan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri tetapi mulai dibagikan agar orang lain dapat berjalan lebih jauh dengan kesalahan yang lebih sedikit.

Dari Dunia Pers ke Rumah Besar Para Perantau

Perjalanan Ady juga membawanya pada ruang pengabdian yang berbeda ketika ia dipercaya memimpin Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan atau BPW KKSS Provinsi Kepulauan Riau untuk periode 2024–2029, setelah terpilih secara aklamasi melalui Musyawarah Wilayah IV KKSS Kepri pada Mei 2024.

Posisi tersebut memiliki makna tersendiri bagi Ady yang juga merupakan perantau asal Sulawesi Selatan, karena KKSS bukan sekadar organisasi paguyuban melainkan ruang untuk menjaga hubungan kekeluargaan, memperkuat persaudaraan dan memastikan masyarakat Sulawesi Selatan di tanah rantau tetap memiliki ikatan dengan akar budayanya.

Sebagai Ketua BPW KKSS Kepri, Ady tidak hanya berbicara tentang organisasi tetapi juga berusaha menempatkan KKSS sebagai bagian dari masyarakat Kepri yang ikut membangun daerah, sebuah posisi yang menuntut kemampuan merawat keberagaman tanpa kehilangan identitas dan sejarah asal-usul.

“Merantau bukan berarti melupakan kampung halaman. Justru di tanah rantau kita harus menunjukkan bahwa kita bisa memberi manfaat,” katanya.

Menariknya, pengalaman Ady sebagai wartawan kembali menemukan relevansinya di sini karena kemampuan berkomunikasi, membangun jaringan dan memahami berbagai karakter masyarakat menjadi modal penting ketika ia harus menjembatani kepentingan organisasi dengan kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Maka jika perjalanan hidupnya dibaca dari satu garis besar, dunia pers, usaha, inovasi, organisasi profesi dan KKSS sebenarnya bukanlah bagian-bagian yang berdiri sendiri, melainkan ruang berbeda yang mempertemukan pengalaman Ady dengan tanggung jawab yang terus berubah.

Bukan Tentang Seberapa Banyak Jabatan

Hari ini nama Ady Indra Pawennari dapat ditemukan di berbagai ruang, mulai dari dunia pers, dunia usaha, HIPKI, Kadin, KJK, BPW KKSS hingga berbagai aktivitas yang bersinggungan dengan lingkungan dan pertanian.

Tetapi jika seluruh jabatan tersebut dilepas satu demi satu, yang tersisa bukanlah seorang ketua organisasi atau seorang pengusaha, melainkan seorang anak petani dari Wajo yang datang merantau ke Tanjungpinang pada usia muda dan kemudian membangun kehidupannya sedikit demi sedikit.

Ia adalah wartawan yang pernah berdarah karena berita, kepala keluarga yang pernah menghadapi teror, pengusaha yang melihat peluang dari pasir kuarsa dan seorang lelaki yang masih mau turun ke tanah untuk menanam padi.

Barangkali itulah inti perjalanan Ady, bukan tentang berapa banyak jabatan yang pernah ia duduki atau berapa banyak ruang yang pernah ia masuki, tetapi tentang bagaimana ia terus bergerak setiap kali kehidupan memaksanya mencari jalan baru.

“Jabatan itu datang dan pergi. Yang penting adalah apa yang kita kerjakan dan apa yang bisa kita tinggalkan,” selorohnya.

Pelajaran dari Jalan Panjang

Dari perjalanan tersebut setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik, pertama bahwa seseorang tidak boleh terlalu cepat menghakimi masa depannya hanya karena melihat dari mana ia berasal, karena Ady tumbuh dari keluarga petani tetapi kemudian mampu memasuki ruang usaha, organisasi dan kebijakan nasional.

Pelajaran kedua adalah bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut, karena Ady pernah mengalami trauma dan ancaman, tetapi ia memilih untuk tetap bergerak sehingga rasa takut tidak berubah menjadi alasan untuk berhenti.

Pelajaran ketiga adalah jangan mengurung diri dalam satu identitas karena dunia terlalu luas untuk dijalani hanya dengan satu label, seorang wartawan dapat menjadi pengusaha, seorang pengusaha dapat berbicara tentang lingkungan dan seorang tokoh organisasi tetap harus bersedia kembali belajar.

Pelajaran berikutnya adalah kemampuan melihat kemungkinan di tengah keterbatasan, sesuatu yang terlihat jelas dari caranya melihat pekarangan sebagai lahan pertanian dan pasir sebagai bahan baku industri, karena sering kali persoalan terbesar bukan tidak adanya peluang melainkan ketidakmampuan melihat peluang tersebut.

Mungkin pelajaran yang paling penting adalah jangan takut terlambat, sebab perjalanan tiga dekade menuju sebuah pengakuan profesional menunjukkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjadi musuh bagi orang yang terus belajar dan terus berjalan.

Ady Indra Pawennari

Ady Indra Pawennari

Lelaki yang Masih Berjalan

Suatu pagi di Kota Tanjungpinang, mungkin Ady kembali melihat rumpun padi di pekarangan rumahnya yang tumbuh perlahan tanpa suara dan tanpa meminta tepuk tangan, tetapi terus bergerak menuju bulir sebagaimana kehidupan yang memang tidak pernah menjanjikan hasil secara instan.

Jika kehidupan Ady ingin dibaca melalui satu gambaran, mungkin rumpun padi itu adalah gambaran yang paling tepat karena ia tumbuh dari tanah, membutuhkan waktu, harus melewati cuaca dan tidak bisa dipaksa berbuah hanya karena manusia ingin segera memanennya.

Begitu pula perjalanan Ady yang dimulai dari Wajo menuju Tanjungpinang, dari sawah menuju ruang redaksi, dari berita menuju ancaman, dari ancaman menuju dunia usaha, dari sabut kelapa menuju pasir kuarsa dan akhirnya kembali ke dunia pers dengan membawa pengalaman tiga dekade.

Ia telah berganti banyak peran tetapi tidak kehilangan satu hal yang paling penting, yaitu kemauan untuk terus belajar dan mencari kemungkinan baru ketika jalan lama tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.

Mungkin itulah alasan perjalanan Ady menarik untuk diceritakan karena ini bukan kisah seorang manusia yang selalu menang, melainkan kisah seseorang yang berkali-kali dipaksa keadaan untuk memilih dan setiap kali pilihan itu datang ia memutuskan untuk tetap berjalan.

Manusia memang tidak selalu ditentukan oleh tempat ia dilahirkan, bukan pula oleh luka ya

  • Penulis: Melly

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ady Indra Pawennari, Bandar Nurani Para Wartawan

    Ady Indra Pawennari, Bandar Nurani Para Wartawan

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Penulis: Ridarman Bay Wartawan Senior Kepri Kamis pagi jelang siang (1/10/2026), saya ngupi bersama sejumlah wartawan. Ada Ady Indra Pawennari, Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), Amril Sekjen KJK, Ambok Akok Bendahara KJK, Suyono Saeran Timsus Gubernur Kepri, Henky Muhari Komisioner KPU Kota Tanjungpinang, dan seorang wartawan Bacadulu.id. Siapa Ady Indra Pawennari? Wartawan sejak 1996, […]

  • Sosok Irjen Pol Andry Wibowo, Narasumber UKW Komunitas Jurnalis Kepri yang Suka Sayur Asem

    Sosok Irjen Pol Andry Wibowo, Narasumber UKW Komunitas Jurnalis Kepri yang Suka Sayur Asem

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Ady Indra Pawennari
    • visibility 23
    • 0Komentar

    Di bawah temaram lampu ibu kota yang sarat akan gemerlap kemewahan, sebuah keteladanan senyap lahir dari sosok Irjen Pol Andry Wibowo. Pangkat jenderal bintang dua yang kini kokoh melekat di pundaknya sama sekali tidak mengubah detak jantung pengabdiannya. Bagi Analis Kebijakan Lemdiklat Polri ini, esensi tertinggi dari sebuah pelayanan publik bukanlah protokoler yang kaku, melainkan […]

  • Dewan Pers Diusulkan Jadi Penyelenggara HPN 2027

    Dewan Pers Diusulkan Jadi Penyelenggara HPN 2027

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Amril Agin
    • visibility 13
    • 0Komentar

    – Setiap tahun Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari. Selama ini, hanya konstituen dewan pers tertentu menjadi penanggungjawab dan penyelenggara HPN Untuk itu HPN tahun 2027, sejumlah organisasi pers atau konstituen Dewan Pers mengusulkan agar Dewan Pers menjadi penangggungjawab dan penyelenggara HPN Melalui siaran pers 31 Agustus 2026, Dewan Pers pada tahun […]

  • Pembangunan Museum Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kepri

    Museum Bahasa Nasional Mulai Dibangun di Pulau Penyengat

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle A. Ridwan
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Tanjungpinang, — Bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pembangunan Museum Bahasa Nasional mulai dilaksanakan di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang. Pembangunan museum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah dan budaya Melayu, sekaligus memperkenalkan peran penting bahasa Melayu dalam perkembangan bahasa Indonesia. Gubernur Kepri H. Ansar Ahmad mengatakan, […]

  • Tim BP Batam memeriksa Waduk Nongsa yang menyusut di Batam

    Waduk Nongsa Menyusut, BP Batam Siapkan Skenario Jaga Pasokan Air

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Basok Ridwan
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Batam, – Cadangan air baku Batam mulai mendapat perhatian serius menyusul turunnya Tinggi Muka Air (TMA) Waduk Nongsa. BP Batam kini memperketat pemantauan sekaligus menyiapkan sejumlah langkah agar kondisi tersebut tidak mengganggu pasokan air kepada masyarakat. Hasil pemantauan terbaru menunjukkan TMA Waduk Nongsa berada di level 5,96 meter. Kondisi itu membuat BP Batam bersama PT […]

  • Upacara HUT ke-81 TNI di Lapangan Tugu Sirih, Tanjungpinang dengan pasukan militer dan aparat

    HUT ke-81 TNI di Tanjungpinang, Nyanyang Tekankan Profesionalisme dan Kekuatan Pertahanan

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Basok Ridwan
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Peringatan HUT ke-81 TNI Provinsi Kepulauan Riau digelar dengan upacara khidmat di Lapangan Tugu Sirih, Tanjungpinang, Senin 5 Oktober 2026, menekankan sinergi TNI dengan rakyat.

expand_less