Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Berita » Kepulauan Riau » Batam » Atasi Krisis Air, BP Batam Buka Peluang Pasokan dari Lingga dan Bintan

Atasi Krisis Air, BP Batam Buka Peluang Pasokan dari Lingga dan Bintan

  • account_circle Melly
  • calendar_month Jumat, 16 Okt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bintan, – Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai membuka peluang kerja sama penyediaan air baku dari Kabupaten Lingga dan Bintan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan air bersih Kota Batam. Langkah tersebut dipertimbangkan menyusul meningkatnya kebutuhan air masyarakat, sementara sejumlah sumber air baku menghadapi tekanan akibat berkurangnya curah hujan.

Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, mengatakan pemerintah tengah menjajaki sejumlah alternatif untuk memperkuat ketersediaan air, termasuk kemungkinan kerja sama dengan pihak swasta, instansi pemerintah, serta pemanfaatan sumber air dari daerah lain di Kepulauan Riau.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan sesuai arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra yang menempatkan pemenuhan kebutuhan air masyarakat sebagai salah satu prioritas pembangunan infrastruktur.

“Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Kepala BP Batam, kami membuka berbagai alternatif kerja sama kemitraan dalam rangka meningkatkan performa dan ketahanan air bagi masyarakat Kota Batam. Para investor swasta ataupun pemerintahan, kami membuka peluang itu untuk kepentingan masyarakat,” ujar Ariastuty dalam keterangan yang disampaikan BP Batam, Kamis (15/10/2026).

Ia menjelaskan, penjajakan tersebut mencakup kerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum melalui instansi pengelola wilayah sungai, pengembangan teknologi pengolahan air laut atau seawater reverse osmosis (SWRO), serta tindak lanjut terhadap potensi suplai air dari Lingga dan Bintan.

Meski demikian, rencana mendatangkan air dari kedua daerah tersebut masih berupa alternatif yang tengah dijajaki. BP Batam belum merinci skema teknis pengiriman air, kebutuhan investasi, kapasitas suplai, maupun target pelaksanaannya.

Di tengah penjajakan sumber pasokan baru, BP Batam masih menghadapi persoalan penurunan tinggi muka air Waduk Nongsa yang berdampak terhadap pelayanan air bersih di kawasan tersebut.

BP Batam mengaitkan kondisi itu dengan berkurangnya curah hujan dan fenomena El Niño, sementara kebutuhan air terus meningkat seiring pertumbuhan permukiman dan aktivitas ekonomi.

Untuk menjaga distribusi kepada masyarakat, sejumlah langkah darurat telah dilakukan, termasuk mengalirkan air dari embung Kebun Raya Nongsa menuju Waduk Nongsa melalui jaringan transmisi air baku.

BP Batam juga memperkuat jaringan perpipaan dengan membangun interkoneksi antara sistem distribusi Waduk Duriangkang dan kawasan Nongsa.

Selain itu, pemasangan mini booster pump tengah dipercepat guna meningkatkan tekanan air ke kawasan yang berada di dataran lebih tinggi maupun ujung jaringan.

Wilayah yang menjadi perhatian antara lain Perumahan Renggali, Citra Nongsa, Taman Yose, Prasetya, serta sejumlah kawasan Sambau yang memiliki elevasi tinggi.

Selama proses penanganan berlangsung, pengiriman air menggunakan mobil tangki juga ditingkatkan untuk membantu masyarakat yang belum memperoleh pasokan secara normal.

“Fokus utama BP Batam saat ini adalah memastikan air sampai ke rumah-rumah warga. Kami terus menggesa percepatan pemasangan mini booster pump dan penguatan jaringan terintegrasi agar gangguan suplai akibat dampak kekeringan El Niño pada Waduk Nongsa dapat segera teratasi secara optimal,” kata Ariastuty.

Menurutnya, peningkatan kapasitas dan keandalan distribusi air menjadi kebutuhan mendesak agar gangguan di satu sumber pasokan tidak berkepanjangan memengaruhi pelayanan kepada masyarakat.

Di tengah persoalan air bersih masyarakat, BP Batam juga memberikan penjelasan mengenai kebutuhan air industri pusat data atau data centre yang berkembang di Nongsa Digital Park dan kawasan industri Kabil.

Ariastuty menegaskan, pemerintah mendorong pengembangan industri tersebut menggunakan sistem pengolahan air laut secara mandiri melalui teknologi SWRO.

“Secara teknis, pengembangan ekosistem Data Center di KEK Nongsa Digital Park (NDP) maupun kawasan industri Kabil telah didorong menggunakan model pengelolaan air mandiri berbasis teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO),” ujarnya.

BP Batam menyatakan, seluruh pengembang data centre wajib membangun dan mengoperasikan fasilitas SWRO untuk memenuhi kebutuhan air ketika kegiatan operasionalnya berjalan penuh.

Adapun selama tahapan konstruksi dan persiapan fasilitas, dukungan pasokan air dari Waduk Duriangkang disebut bersifat sementara dan sangat terbatas.

Ariastuty menjelaskan, tidak seluruh proyek data centre yang direncanakan di Batam telah beroperasi. Berdasarkan data yang disampaikan BP Batam, satu fasilitas sudah beroperasi, satu masih dalam tahap konstruksi, sedangkan empat lainnya berada pada tahap perencanaan pembangunan.

Sejumlah proyek tersebut tersebar di kawasan Nongsa dan Kabil. Nongsa Digital Park juga disebut memiliki embung internal untuk mendukung kebutuhan pemeliharaan kawasannya.

“Kami memandang pentingnya penyampaian informasi yang akurat mengenai status pembangunan dan kebutuhan utilitas ini dilakukan. Sehingga, dapat dibedakan perencanaan pengembangan proyek masa mendatang dengan pemakaian aktual saat ini,” jelas Ariastuty.

Penjelasan tersebut sekaligus menempatkan penggunaan SWRO sebagai salah satu solusi jangka panjang agar pengembangan industri pusat data tidak semakin membebani sumber air baku yang diperuntukkan bagi masyarakat.

Namun, informasi mengenai status operasional masing-masing fasilitas SWRO, kapasitas produksi, serta volume air aktual yang digunakan industri belum dirinci dalam keterangan tersebut.

BP Batam juga tengah mendiskusikan kemungkinan pelaksanaan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan koordinasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Langkah tersebut dipertimbangkan untuk membantu mengatasi penurunan ketersediaan air baku akibat kondisi cuaca.

Selain itu, BP Batam menyiapkan revitalisasi jaringan perpipaan, penguatan infrastruktur distribusi, serta penyesuaian prioritas anggaran untuk mendukung pelayanan air bersih.

Pengembangan sistem pengawasan jaringan berbasis Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) juga menjadi perhatian. Teknologi tersebut diharapkan membantu pemantauan kondisi operasional sekaligus mempercepat identifikasi kebocoran atau gangguan distribusi.

Untuk jangka panjang, pembangunan waduk baru turut masuk dalam perencanaan. Namun, BP Batam memperkirakan pembangunan hingga pemanfaatan waduk memerlukan waktu sekitar lima sampai tujuh tahun.

Karena itu, penyediaan air dari daerah lain, termasuk Lingga dan Bintan, menjadi salah satu alternatif yang perlu dikaji bersamaan dengan optimalisasi sumber air yang sudah tersedia.

“Seluruh opsi perlu dijalankan secara terpadu agar Batam tidak hanya mengatasi kebutuhan air saat ini, tetapi juga membangun ketahanan pasokan air yang berkelanjutan,” pungkas Ariastuty.

Langkah tersebut menandai upaya BP Batam mencari solusi yang lebih luas terhadap kebutuhan air bersih, di tengah pertumbuhan penduduk dan investasi yang terus meningkatkan kebutuhan utilitas di Kota Batam.

  • Penulis: Melly

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less