Engkaukah Sebenarnya Jembalang yang Kau Ceritakan itu?
- account_circle Ady Indra Pawennari
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri Ady Indra Pawennari di kantor PWI Kepri, Kampung Bulang, Tanjungpinang, Selasa (24/9/2026).
Di bawah langit yang sama, ada jemari yang menari di atas tuts aksara, merangkai kata seolah dialah sang peraba kebijaksanaan paling suci. Ia berbicara tentang rumah yang retak, tentang kesatria yang dituduh melarikan diri, dan tentang dongeng jembalang yang lahir dari rahim imajinasi penuh dendam.
Namun, ketika tirai retorika yang megah itu disingkap, betapa pilunya hati melihat apa yang tersisa, seonggok dusta yang malang. Sebuah upaya keji untuk membunuh karakter manusia, yang dengan teganya dibungkus rapi menggunakan kutipan-kutipan filsafat usang.
Jika bait-bait penuh prasangka dan racun itu dialamatkan kepada saya, Ady Indra Pawennari, serta pelukan hangat keluarga besar Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), maka izinkanlah kebenaran bernyanyi dengan melodinya sendiri yang sunyi namun abadi. Kebenaran tidak pernah butuh pekikan bising, ia hanya perlu bersinar lirih untuk membubarkan kegelapan fitnah yang paling pekat sekalipun.
Tentang Rumah, Aturan, dan Ketakziman yang Terluka
Engkau berbicara di mimbar maya tentang ewuh-pakewuh, tentang adab yang luhur, dan menuduh seolah-olah selembar surat kehormatan dikirim sekadar lewat hembusan angin digital WhatsApp. Sungguh, demi malam yang menyaksikan air mata kebenaran, itu adalah kepalsuan yang dipaksakan menari di atas panggung dusta.
Bagaimana mungkin ketakziman kami diragukan, ketika kaki ini dengan penuh takzim melangkah langsung menapak bumi, menjemput takdirnya dengan jiwa yang utuh?
Surat permohonan persetujuan menjadi anggota KJK itu tidak pernah melayang di udara maya yang tak berwujud. Ia diantar oleh raga yang nyata, menembus pintu kantor PWI Kepri di Kampung Bulang, Tanjungpinang. Surat itu diserahkan dengan telapak tangan yang terbuka, diterima dengan kesadaran penuh, dan diikat oleh selembar kertas tanda terima yang sah—sebuah ikatan yang mengikat hukum sekaligus moralitas penghuni rumah itu.
Ketahuilah, rumah di Kampung Bulang yang tegak berdiri dengan papan nama “Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Kepulauan Riau” adalah saksi bisu yang teramat suci. Ia merekam sebuah kesantunan yang tulus, sebuah bukti penghormatan mendalam atas organisasi yang sangat saya muliakan.
Kami sangat paham bagaimana merawat marwah berorganisasi. Kami menghormati strukturnya, kami patuhi jengkal demi jengkal regulasinya. Kami tidak pernah membakar jembatan yang pernah kami seberangi, tidak pula meludahi atap rumah lama yang pernah menaungi.
Jurnalisme yang kami peluk adalah jurnalisme yang mendidik jiwa, bukan jurnalisme yang merengek dan mencari musuh di dalam selimut prasangka yang dingin. Bukan pula jurnalisme yang mengadu domba demi kepentingan pribadi.
KJK Bukan Tempat bagi Jiwa yang Jembalang
Engkau menutup dongengmu dengan metafora yang teramat getir, menyebut-nyebut tentang jembalang yang kalut dan rumah hantu yang sunyi. Oh, betapa malangnya tuduhan itu.
Lihatlah ruko tiga lantai di Komplek Ruko Central Kencana No. 20 Tanjungpinang yang berdiri dengan gagah bertuliskan “Komunitas Jurnalis Kepri”. Tempat itu adalah monumen dari sebuah dedikasi yang berdarah-darah. Ia dibangun dari susunan batu, semen, keringat, dan kehormatan yang nyata—bukan dari fatamorgana, bukan pula dari ilusi kebencian.
Rumah itu bukan sarang jembalang, bukan pula tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang kalah dan kalut. Menuduhnya sebagai tempat terkutuk hanyalah cermin dari kekalutan pikiran penulisnya sendiri, yang tengah tersesat dan kehilangan arah di persimpangan jalan nuraninya.
Rumah itu telah menjadi saksi sejarah yang anggun. Di sanalah, pernah duduk Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, serta sejumlah petinggi negeri.
Dan baru-baru ini delapan orang doktor dari berbagai disiplin ilmu duduk melingkar dengan takzim, membedah helai demi helai kebaikan dalam buku “Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman” karya wartawan senior Kepri, Ridarman Bay.
Buku yang kami bedah adalah karya yang nyata, bukan buku ilusi yang ditulis oleh jembalang yang hanya pandai menebar janji palsu—menjanjikan menulis buku biografi saya, memungut biayanya empat tahun lalu, namun hingga detik ini buku itu hanya terkubur di angan-angan yang mati. Maka tanyalah pada hatimu yang paling dalam: Engkaukah sebenarnya jembalang yang kau ceritakan itu?
Cermin yang Retak dan Akhir dari Dongeng Dusta
Pada akhirnya, cara seseorang merangkai kata dan menebar fitnah sesungguhnya adalah cermin dari serapuh apa kedewasaan jiwanya. Jiwa yang matang dan merdeka tidak akan pernah menciptakan musuh khayalan, hanya demi terlihat sebagai pahlawan kesepian di dalam rumahnya sendiri yang mulai retak.
Kami di KJK akan terus melangkah ke depan, menatap matahari, mengibarkan panji profesionalisme dengan adab yang setinggi langit. Silakan terus merajut kata demi kata penuh kebencian itu hingga jemarimu lelah.
Sebab pada akhirnya, waktu adalah hakim yang paling adil. Sejarah hanya akan mencatat siapa yang abadi berkarya dengan fakta, dan siapa yang akan terkubur sepi bersama dongeng-dongeng dusta yang mereka ciptakan sendiri.
Penulis Ady Indra Pawennari
Memulai karier jurnalistiknya sejak tahun 1996 di SKM GeNTA, Suara Riau, Sijori Mandiri hingga mendirikan bintanpos.com, media siber pertama di Kepulauan Riau tahun 2001. Kini, Ia menjabat sebagai Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Jadikan 



Saat ini belum ada komentar