Pasok MBG, Pemerintah Kebut Ekosistem Peternakan Terintegrasi Rp17 Triliun
- account_circle Ady Indra Pawennari
- calendar_month 17 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan
Bone,
– Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir demi memperkuat ketahanan pangan nasional. Proyek strategis ini dirancang untuk menjamin ketersediaan daging ayam, telur, dan susu di dalam negeri.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan proyek ini merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industri peternakan nasional. Pemerintah total menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun untuk pengembangan ekosistem ini di sejumlah wilayah.
“Lima pabrik pakan, DOC (day-old chick), dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insya Allah, kelimanya diresmikan tahun depan,” ujar Amran saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026).
Pada tahap awal, pembangunan mencakup lima kawasan yang tersebar di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Kementan mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,2 triliun untuk fase pertama ini.
“Anggarannya sudah turun. Beliau (Presiden) sudah menandatangani Rp2,2 triliun untuk lima lokasi tersebut,” lanjutnya.
Amran menegaskan seluruh proses administrasi dan anggaran telah tuntas, sehingga pengerjaan fisik di lapangan kini sedang dikebut.
Kawasan peternakan ini didesain secara holistik. Kompleks ini tidak hanya memproduksi komoditas akhir, tetapi juga mengintegrasikan rantai pasok mulai dari pabrik pakan, fasilitas pembibitan anak ayam (DOC), budidaya, hingga pengembangan sapi perah.
Integrasi ini juga disiapkan untuk menjadi pemasok utama bahan pangan bergizi bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah berkomitmen agar kebutuhan program tersebut sepenuhnya dipenuhi oleh produksi peternak dalam negeri.
“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada program MBG yang menjadi off-taker (penyerap) ayam, telur, dan susu hasil produksi di sini,” jelas Amran.
Untuk menekan biaya logistik, pemerintah membangun pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung lokal, seperti Bone dan Soppeng. Strategi ini memotong rantai distribusi panjang yang selama ini membebani peternak.
“Itu lebih murah. Daripada jagung ini dikirim dulu ke Surabaya atau Jakarta, lalu setelah jadi pakan dikembalikan lagi ke sini,” tambahnya.
Selain pakan dan ayam, pengembangan sapi perah juga diprioritaskan demi menggenjot produksi susu nasional untuk memperbaiki gizi generasi muda. Menurut Amran, program ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan visi Indonesia Emas.
Di Sulawesi Selatan sendiri, pusat ekosistem ini ditempatkan di Kabupaten Bone dengan memanfaatkan lahan seluas 150 hektare. Proyek ini diharapkan tidak hanya mengamankan pasokan pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal.
Penulis Ady Indra Pawennari
Memulai karier jurnalistiknya sejak tahun 1996 di SKM GeNTA, Suara Riau, Sijori Mandiri hingga mendirikan bintanpos.com, media siber pertama di Kepulauan Riau tahun 2001. Kini, Ia menjabat sebagai Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Jadikan




Saat ini belum ada komentar