Satu Jiwa Jaga Bumi Melayu, 1.000 Mangrove Satukan Lintas Ormas di Batam
- account_circle Melly
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

DPD Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Provinsi Kepulauan Riau menanam sekitar 1.000 batang mangrove di pesisir Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, Batam, Minggu (27/09/2026).
Batam,
— Menanam mangrove menjadi cara sederhana yang dipilih sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Batam untuk merawat lingkungan sekaligus mempererat persaudaraan. Di pesisir Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, Minggu (27/9/2026), sedikitnya 1.000 batang mangrove ditanam dalam aksi yang diprakarsai DPD Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Kegiatan tersebut tidak hanya berbicara soal penghijauan. Aksi tanam mangrove dirangkai dengan bakti sosial pembagian sembako dan diikuti belasan organisasi lintas komunitas. Pesan yang dibawa pun lebih luas: menjaga Batam tetap aman, damai dan kondusif melalui kebersamaan, tanpa menjadikan perbedaan organisasi, suku maupun agama sebagai sekat.
Salah satu organisasi yang ikut dalam kegiatan tersebut adalah Pasukan Adat dan Marwah Gagak Hitam. Kehadiran berbagai elemen masyarakat itu menjadi simbol bahwa perbedaan wadah tidak menghalangi semangat untuk menjaga lingkungan dan daerah bersama-sama.
Ketua DPD GRIB Jaya Kepri, Junaidi Eddy, mengatakan penanaman mangrove sekaligus menjadi respons terhadap berkurangnya kawasan pesisir seiring perkembangan pembangunan di Batam.
“Kita melihat saat ini cukup banyak kawasan mangrove yang berkurang akibat pengembangan wilayah. Melalui kegiatan ini, kita berharap keberadaan mangrove di Batam terus dijaga dan dilestarikan agar lingkungan tetap seimbang,” ujar Junaidi.
Menurutnya, menjaga Batam agar tetap kondusif bukan hanya menjadi tugas pemerintah maupun aparat keamanan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Momentum tersebut, kata Junaidi, juga dimanfaatkan untuk memperkuat silaturahmi antarkelompok masyarakat.
“Harapan kita, Batam tetap kondusif. Berkumpulnya berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Batam adalah daerah yang aman, damai, dan sangat terbuka, termasuk bagi para investor,” katanya.
Pesan persatuan juga disampaikan Panglima Sambang Gagak Hitam, Udin Pelor. Ia menilai pertemuan lintas ormas dalam satu kegiatan menjadi langkah penting untuk membangun kembali kebersamaan di tengah dinamika yang sempat terjadi di Batam.
“Menyatukan perbedaan ras, suku, dan agama bukanlah hal yang mudah, terlebih setelah kejadian beberapa waktu lalu. Namun hari ini kita membuktikan, di Bumi Melayu ini tidak ada sekat. Kita semua adalah sesama anak bangsa yang berdiri di bawah naungan NKRI,” ujar Udin.
Ia menegaskan, perbedaan organisasi seharusnya tidak menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, setiap elemen masyarakat dapat mengambil peran sesuai bidang masing-masing untuk menjaga keamanan dan keutuhan daerah.
Dalam kegiatan tersebut, para pimpinan ormas juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Polda Kepri dan Polresta Barelang, yang dinilai telah menjalankan tugas menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Batam dan Kepulauan Riau.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengarahan teknis atau edu briefing mengenai tata cara penanaman mangrove oleh perwakilan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepri, Moh. Safet.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penyerahan bibit secara simbolis dan penanaman mangrove bersama di kawasan pesisir Tanjung Uma. Acara kemudian diisi ramah tamah dan ditutup dengan pembagian paket sembako kepada warga setempat.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus DPD, DPC, PAC, Srikandi dan Dewan Pengawas GRIB Jaya Kepri. Turut hadir perwakilan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BAPEDAS), Sekretaris DPD HKTI Wayan U Cakra, pihak Kelurahan Tanjung Uma, Bhabinkamtibmas, Babinsa serta tokoh masyarakat.
Sejumlah organisasi dan komunitas juga ambil bagian, antara lain HNS, TAGANA Batam, Persaudaraan Masyarakat Dumai Permai, YBTM, PERMASA, GAMAT, TAJAM, Ikatan Keluarga Adonara (IKA), GMW dan komunitas masyarakat MBTU Tanjung Uma.
Dari pesisir Tanjung Uma, ribuan bibit mangrove itu ditanam bukan sekadar untuk menghijaukan garis pantai. Ia menjadi simbol bahwa menjaga Bumi Melayu dapat dimulai dari hal sederhana: merawat alam dan merawat persaudaraan secara bersamaan.
- Penulis: Melly

Jadikan




Saat ini belum ada komentar