Delapan Tahun Aji Bersahabat dengan Keterbatasan
- account_circle Ambok Akok
- calendar_month Senin, 7 Sep 2026
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wartawan Senior Kepri dan KJK saat mengunjungi Trisno Aji Putra dikediamannya. (6/9)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Bagi keluarga, delapan tahun mendampingi seorang laki-laki yang tak lagi mampu berdiri adalah perjalanan panjang yang tak mudah diceritakan dengan kata-kata.
Hari berganti hari. Pagi datang, malam kembali. Namun keadaan Trisno Aji Putra nyaris tak banyak berubah. Mantan wartawan Tribun Batam itu kini hanya mampu terduduk dan terbaring, menjalani hari dengan tubuh yang tak lagi leluasa bergerak seperti dahulu.
Dulu, Aji adalah bagian dari dunia yang penuh aktivitas. Dunia wartawan yang akrab dengan jalan, narasumber, berita dan tenggat waktu. Kini, ruang geraknya jauh lebih terbatas.
Sebuah kamar berukuran sekitar 3 x 3 meter menjadi tempat Aji menjalani sebagian besar waktunya. Ketika kami datang, ia ditemani kakak iparnya, kakak dari sang istri, yang dengan sabar mendampingi dan menceritakan kondisi Aji kepada kami.
Dari penuturannya, berbagai upaya pernah dilakukan keluarga agar Aji bisa kembali pulih. Terapi menjadi salah satu ikhtiar yang pernah dijalani. Namun harapan itu berhadapan dengan kenyataan yang berat. Setiap menjalani terapi, Aji justru kerap menjerit karena kesakitan.
Akhirnya, keluarga memilih menghentikan terapi tersebut. Bukan karena mereka berhenti berharap, tetapi karena tak sanggup melihat Aji terus menanggung rasa sakit.
Menurut keluarga, kemungkinan Aji untuk kembali seperti dahulu memang sangat tipis. Di tengah keterbatasannya, Aji masih mampu merasakan sakit dan mengungkapkannya.
“Iya, ini sakit kalau begini,” ucapnya sambil menunjukkan bagian tubuh yang dirasakannya sakit.
Kalimat pendek itu terdengar sederhana. Tetapi bagi keluarga yang selama delapan tahun menyaksikan perjuangannya, mungkin tidak ada kalimat yang benar-benar sederhana.
Ada ibu yang tetap menyayangi anaknya. Ada istri yang terus mendampingi suaminya. Ada pula keluarga besar yang saling bergantian menjaga dan memastikan Aji tidak menjalani semua ini seorang diri.
Tidak ada istilah libur bagi keluarga yang merawat orang sakit. Ketika pagi datang, perhatian kembali diberikan. Ketika malam tiba, kepedulian belum selesai. Begitu terus, melewati hari, bulan, bahkan tahun.
Delapan tahun mengajarkan keluarga Aji tentang kesabaran. Tentang merawat tanpa menghitung waktu, mencintai tanpa banyak bicara, dan bertahan meski harapan kadang terasa begitu tipis.
Aji kini tidak lagi mengejar berita. Tidak lagi berkejaran dengan deadline seperti ketika masih aktif menjadi wartawan. Namun di dalam rumah itu, ada cerita lain yang terus berjalan. Cerita tentang keluarga yang memilih bertahan ketika keadaan tidak mudah.
Sesungguhnya, yang paling dibutuhkan Aji hari ini bukan sekadar rasa kasihan. Tapi, kepedulian yang membuatnya merasa bahwa ia masih menjadi bagian dari kita
“Alhamdulillah, ya Allah,” ucap Aji.
Setelah delapan tahun, ucapan Alhamdulillah dari Aji itulah bentuk syukur paling sederhana dari seorang manusia yang masih memilih untuk bertahan.
Penulis Ambok Akok
Lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Utama sejak 2018 dan Juara III Lomba Menulis Kemaritiman yang ditaja UPN Veteran Yogyakarta dan Dubes Konsulat Amerika Serikat di Medan pada tahun 2021.

Jadikan 
Saat ini belum ada komentar