Dari Komandan Korem hingga Gubernur Riau, Edy Natar Abadikan Jejak Pengabdian di Tanah Melayu
- account_circle Redaksi
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Brigjen TNI (Purn.) Edy Afrizal Natar Nasution, S.I.P. meluncurkan dan membedah buku autobiografinya di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Pekanbaru, Minggu (27/9/2026).
Pekanbaru,
– Sebuah perjalanan panjang tidak selalu cukup dikenang lewat cerita. Ada kalanya pengalaman perlu ditulis agar tetap hidup, dibaca, dan dipelajari oleh generasi setelahnya. Semangat itulah yang mewarnai peluncuran dan bedah buku autobiografi Brigjen TNI (Purn.) Edy Afrizal Natar Nasution, S.I.P., di Rumah Makan Pondok Khas Melayu, Pekanbaru, Minggu (27/9/2026).
Buku tersebut merekam perjalanan Edy Natar Nasution selama menjalani pengabdian di lingkungan militer, pemerintahan hingga kehidupan setelah memasuki masa purnatugas.
Pemerintah Provinsi Riau menyambut positif terbitnya autobiografi tersebut. Bagi Pemprov Riau, buku itu tidak sekadar menjadi catatan perjalanan pribadi, tetapi juga dapat menjadi bahan refleksi dan pembelajaran, terutama bagi generasi muda.
Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Helmi D, mengatakan pengalaman hidup yang dituangkan dalam sebuah buku memiliki nilai lebih karena dapat menjangkau pembaca lintas generasi.
Menurutnya, perjalanan seorang tokoh yang ditulis secara langsung dapat memperkaya literasi sekaligus memperlihatkan nilai-nilai yang membentuk karakter, tanggung jawab dan kepemimpinan.
“Semoga autobiografi ini mampu memantik semangat literasi dan menjadi tuntunan bagi generasi muda Riau untuk menjadi pemimpin yang berkarakter, berintegritas dan bertakwa,” ujar Helmi.
Helmi menilai perjalanan Edy Natar Nasution dalam berbagai fase kehidupan memperlihatkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang dibangun melalui pengalaman, konsistensi dan pengabdian.
Karena itu, menurutnya, buku tersebut dapat dibaca tidak hanya dari sisi perjalanan karier, tetapi juga dari nilai-nilai kehidupan yang menyertainya.
“Melalui momentum bedah buku ini, kita tidak hanya melihat strategi kepemimpinan militer atau birokrasi, tetapi juga bagaimana nilai-nilai dakwah dan kehidupan dapat diintegrasikan dalam ruang publik,” katanya.
Bagi Edy Natar Nasution, penulisan autobiografi tersebut berangkat dari keinginan sederhana: meninggalkan catatan atas berbagai pengalaman yang telah dilalui agar tidak berhenti sebagai ingatan pribadi.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memberikan manfaat apabila dibaca oleh masyarakat secara lebih luas, terutama generasi muda.
“Harapan saya masyarakat luas bisa membaca lebih banyak lagi, sehingga ada hal-hal yang mungkin dapat menjadi referensi bagi anak muda kita semua,” ujar Edy.
Menurutnya, perjalanan hidup merupakan rangkaian dinamika yang perlahan membentuk cara seseorang memandang tanggung jawab, pengabdian dan kepemimpinan.
Edy mengatakan buku tersebut juga dipersembahkan sebagai bentuk warisan pemikiran bagi keluarganya. Ia berharap apa yang ditulis dapat menjadi bahan pembelajaran bagi anak dan cucu, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Saya ingin setidak-tidaknya buku ini menjadi legacy edukasi minimal untuk anak dan cucu saya, dan syukur-syukur bisa memberi pelajaran kepada anak-anak muda di tanah Melayu ini,” pungkasnya.
Peluncuran dan bedah buku tersebut pun menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan pengabdian seorang tokoh melalui perspektif pengalaman personal. Dari dunia militer, pemerintahan hingga kehidupan setelah purnatugas, berbagai fase itu kini dirangkai dalam sebuah buku yang diharapkan dapat menjadi bagian dari literasi dan pembelajaran generasi berikutnya.
Penulis Redaksi
Tim Redaksi BacaDulu.id berkomitmen menyajikan informasi aktual, tajam, dan tepercaya. Menyuguhkan ragam berita pilihan seputar dinamika ekonomi, perkembangan bisnis, tren wisata, hingga isu-isu strategis nasional dan global untuk memenuhi kebutuhan referensi pembaca cerdas.

Jadikan




Saat ini belum ada komentar