Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Berita » Kepulauan Riau » Tanjungpinang » Wahyu Wahyudin Dukung Air Lingga Dialirkan ke Batam Lewat Pipa Bawah Laut

Wahyu Wahyudin Dukung Air Lingga Dialirkan ke Batam Lewat Pipa Bawah Laut

  • account_circle Basok Ridwan
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Tanjungpinang, — Gagasan mendatangkan air baku dari Kabupaten Lingga untuk memenuhi kebutuhan Batam melalui pipa bawah laut kembali mendapat dukungan. Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Riau, Wahyu Wahyudin, menyatakan sangat mendukung rencana tersebut karena Lingga memiliki potensi sumber air tawar yang besar dan dapat menjadi salah satu alternatif bagi ketahanan air Batam.

Menurut Wahyu, persoalan air merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa hanya diselesaikan dengan mengandalkan sumber yang berada di dalam wilayah Batam. Seiring pertumbuhan penduduk, kawasan permukiman, industri dan investasi, kebutuhan air akan terus meningkat sehingga pemerintah perlu menyiapkan sumber air alternatif sejak sekarang, termasuk melihat potensi daerah lain di Provinsi Kepulauan Riau.

“Saya sangat setuju kalau Batam mendatangkan air dari Lingga melalui pipa bawah laut. Lingga memiliki air tawar yang sangat baik dan potensinya melimpah. Ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan air Batam ke depan,” ujar Wahyu, Rabu (07/10/2026).

Wahyu menilai, secara konsep, kerja sama pemanfaatan sumber air antara Lingga dan Batam memiliki peluang untuk memberikan manfaat bagi kedua daerah. Batam mendapatkan alternatif sumber air baku, sedangkan Lingga dapat memperoleh nilai ekonomi dari potensi sumber daya air yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, menurut dia, pembahasannya tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus diarahkan pada kajian yang konkret.

Dorongan tersebut kembali muncul ketika Pemerintah Kabupaten Lingga menyatakan kesiapan membuka ruang kerja sama pemanfaatan sumber air baku untuk Batam.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lingga, Armia, sebelumnya mengatakan pemerintah daerah siap mendukung apabila rencana tersebut ditindaklanjuti secara serius. Pemkab Lingga bahkan mengaku telah mengikuti sejumlah pembahasan bersama pihak terkait, tetapi sejauh ini belum melihat pekerjaan fisik sebagai tindak lanjut di lapangan.

Wahyu menilai posisi Lingga cukup strategis untuk dipertimbangkan dalam peta ketahanan air Kepri. Daerah tersebut memiliki kawasan pegunungan dan sejumlah sumber air tawar yang selama ini menjadi bagian dari pembahasan pemanfaatan air baku.

Namun, seluruh potensi itu tetap harus dibuktikan melalui pengukuran debit, kualitas air dan kajian keberlanjutan agar pemanfaatannya tidak mengganggu ekosistem maupun kebutuhan masyarakat Lingga sendiri.

“Yang paling penting sekarang adalah kajiannya. Kalau secara teknis memungkinkan, secara ekonomi masuk dan dari sisi lingkungan aman, kenapa tidak dilakukan? Batam membutuhkan air, sementara Lingga mempunyai potensi sumber air. Tinggal bagaimana pemerintah membuat skema kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua daerah,” kata Wahyu.

Menurut Wahyu, pembangunan pipa bawah laut tidak boleh dilihat hanya sebagai proyek infrastruktur. Ada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana membangun sistem ketahanan air Batam untuk menghadapi pertumbuhan kebutuhan dalam jangka panjang. Karena itu, studi kelayakan harus menghitung seluruh komponen, mulai dari sumber air, kapasitas pengambilan, teknologi pengolahan, jalur pipa, kondisi dasar laut, kebutuhan energi, investasi hingga biaya operasi dan pemeliharaan.

Ia juga mendorong agar kajian tersebut membandingkan air baku dari Lingga dengan berbagai sumber alternatif yang saat ini sedang dikembangkan Batam. Dengan begitu, pemerintah dapat menentukan pilihan berdasarkan efisiensi, keamanan pasokan dan keberlanjutan, bukan sekadar karena sebuah gagasan pernah dibicarakan sebelumnya.

“Jangan hanya berpikir soal membangun pipanya. Kita harus melihat dari hulu sampai hilir. Airnya berapa, kualitasnya bagaimana, berapa biaya investasinya, berapa biaya operasionalnya dan bagaimana pengaruhnya terhadap tarif air. Semua harus dihitung secara terbuka,” ujarnya.

Gagasan pemanfaatan air Lingga untuk Batam sebenarnya bukan hal baru. Pada 2017, Pemerintah Kabupaten Lingga dan BP Batam pernah menandatangani nota kesepahaman terkait pemanfaatan potensi sumber air Lingga.

Sejumlah kajian kemudian dilakukan, termasuk pembahasan pembangunan pipa bawah laut yang pada masa itu diperkirakan memiliki panjang sekitar 100 kilometer.

Kajian lama juga sempat melibatkan Balai Wilayah Sungai Sumatera IV. Bahkan, potensi Air Terjun Jelutung dan sejumlah sumber air lainnya di Lingga pernah menjadi bagian dari pembahasan.

Estimasi investasi yang muncul dalam berbagai kajian lama berada pada kisaran ratusan miliar rupiah, tetapi angka tersebut tidak bisa lagi dijadikan patokan karena kondisi harga konstruksi dan teknologi telah berubah.

Wahyu mengatakan, justru karena gagasan tersebut pernah dibahas secara serius, pemerintah saat ini tidak harus memulai dari nol. Dokumen dan kajian lama dapat menjadi bahan awal untuk diperbarui dengan data terbaru.

Jika dahulu teknologi, kebutuhan dan biaya masih berbeda, maka sekarang seluruh perhitungan harus disesuaikan dengan kondisi Batam dan Lingga saat ini.

Persoalan air Batam menjadi semakin penting seiring pertumbuhan kawasan tersebut. BP Batam terus mengembangkan berbagai sumber alternatif, termasuk optimalisasi waduk, interkoneksi jaringan, SWRO, air daur ulang dan sumber air lainnya. Namun, diversifikasi sumber air tetap diperlukan agar ketahanan air tidak bergantung pada satu sistem.

Dalam konteks tersebut, menurut Wahyu, potensi Lingga layak ditempatkan sebagai salah satu opsi yang dikaji secara serius. Ia tidak mengatakan air Lingga otomatis menjadi solusi tunggal bagi Batam, tetapi melihat potensi tersebut sebagai peluang yang patut diuji dengan pendekatan ilmiah dan perencanaan yang matang.

“Ini bukan soal Lingga atau Batam saja. Ini kepentingan masyarakat Kepri. Kalau ada sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tentu harus kita kaji dan cari model kerja samanya. Jangan sampai potensi yang ada tidak dimanfaatkan karena kita tidak pernah serius menghitung kelayakannya,” kata Wahyu.

Ia juga mengingatkan agar kepentingan Lingga tetap diperhatikan apabila kerja sama tersebut nantinya diwujudkan. Pemanfaatan sumber air harus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah penghasil sekaligus memastikan kawasan sumber air tetap terlindungi.

Dorongan Wahyu tersebut sejalan dengan gagasan yang pernah dibangun mantan Bupati Lingga Alias Wello bersama sejumlah pihak di lingkungan pemerintahannya, termasuk Ady Indra Pawennari, yang sejak awal ikut mendorong pemanfaatan potensi sumber air Lingga untuk menjawab kebutuhan Batam.

Ady belakangan kembali mengingatkan agar gagasan tersebut dibuka kembali. Menurutnya, persoalan air Batam yang semakin strategis seharusnya menjadi alasan untuk memperbarui kajian lama, bukan membiarkannya menjadi dokumen yang tersimpan di arsip pemerintahan.

Kini, dukungan dari unsur DPRD Kepri menambah dimensi baru dalam pembahasan tersebut. Jika sebelumnya wacana Lingga–Batam lebih banyak bergerak dalam ranah eksekutif dan kajian teknis, maka dukungan legislatif dapat menjadi dorongan agar persoalan tersebut kembali dibahas secara lintas lembaga.

Bagi Wahyu, langkah pertama yang paling penting bukan langsung membangun pipa, melainkan mempertemukan seluruh pihak yang berkepentingan untuk membahas data dan kelayakan proyek. BP Batam, Pemkab Lingga, Pemprov Kepri dan para ahli perlu duduk bersama untuk menentukan apakah sumber air Lingga memang dapat menjadi bagian dari strategi ketahanan air Batam.

“Kalau memang air Lingga bagus dan melimpah, kemudian secara kajian bisa dialirkan ke Batam, saya sangat mendukung. Yang penting semuanya dihitung dan dilakukan secara profesional. Jangan sampai hanya menjadi pembahasan lagi. Kalau layak, kita dorong sampai ada tindak lanjutnya,” tegas Wahyu.

Penulis

Ia merupakan seorang jurnalis muda multitalenta yang saat ini aktif bergerak di bawah bendera BacaDulu.id. Dengan wilayah liputan strategis di Kepulauan Riau, ia berdedikasi menyajikan analisis tajam terkait kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga dinamika politik lokal. Profesionalisme dan integritasnya di ruang redaksi semakin kukuh setelah resmi mengantongi sertifikat kompetensi Wartawan Muda sejak 4 September 2026.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less