RSUD Raja Ahmad Tabib Kembali Sukses Operasi Jantung Terbuka, Dua Pasien Koroner Berat dalam Kondisi Stabil
- account_circle Basok Ridwan
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT) Provinsi Kepulauan Riau melaksanakan operasi jantung terbuka terhadap dua pasien penderita penyakit jantung koroner berat di Tanjungpinang, Kamis (08/10/2026).
TANJUNGPINANG,
– RSUD Raja Ahmad Tabib (RAT) Provinsi Kepulauan Riau kembali berhasil melaksanakan operasi jantung terbuka terhadap dua pasien penderita penyakit jantung koroner berat. Tindakan medis tersebut berlangsung melalui program pendampingan atau proctorship bersama Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta pada 8–10 Oktober 2026.
Kedua pasien dilaporkan dalam kondisi stabil setelah menjalani rangkaian operasi dan perawatan pascaoperasi. Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam pengembangan pelayanan bedah jantung di Kepulauan Riau.
Sebagai rumah sakit rujukan utama di provinsi tersebut, RSUD Raja Ahmad Tabib terus meningkatkan kemampuan pelayanan kardiovaskular, termasuk melalui pengoperasian Laboratorium Kateterisasi Jantung atau Cathlab untuk tindakan jantung nonbedah.
Pengembangan layanan bedah jantung terbuka menjadi kebutuhan penting mengingat kondisi geografis Kepulauan Riau yang terdiri atas banyak pulau. Selama ini, pasien yang membutuhkan tindakan medis tertentu harus menghadapi proses rujukan ke luar daerah, termasuk konsekuensi biaya, waktu perjalanan, dan risiko kesehatan.
Melalui kerja sama dengan RSJPD Harapan Kita, tim medis RSUD Raja Ahmad Tabib memperoleh pendampingan langsung dari tenaga ahli dalam pelaksanaan operasi sekaligus penguatan kemampuan pelayanan bedah jantung secara bertahap.
Ketua Pelaksana Proctorship Bedah Jantung Terbuka RSUD Raja Ahmad Tabib, dr. R. Ahmad Anzali, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa kedua pasien sebelumnya telah menjalani pemeriksaan dan seleksi ketat oleh Heart Team atau Tim Jantung Terpadu.
Pasien pertama berinisial D, berusia 44 tahun, memiliki riwayat merokok berat. Ia didiagnosis mengalami Coronary Artery Disease Three Vessel Disease with Left Main (CAD 3VD + LM), yakni penyakit jantung koroner kompleks yang melibatkan tiga pembuluh darah utama serta pembuluh koroner utama kiri.
Meski mengalami penyumbatan pembuluh darah koroner yang berat, pasien tersebut tercatat memiliki fungsi pompa jantung atau Left Ventricular Ejection Fraction (LVEF) sebesar 70 persen.
Sementara pasien kedua berinisial W, berusia 58 tahun, memiliki riwayat diabetes melitus. Ia didiagnosis mengalami penyakit koroner kompleks dengan kondisi CAD 3VD + LM yang serupa.
Namun, fungsi pompa jantung pasien kedua tercatat sebesar 33 persen, menunjukkan penurunan kemampuan jantung dalam memompa darah.
Kedua pasien telah mendapatkan persiapan medis dan edukasi sebelum menjalani operasi. Berdasarkan keterangan rumah sakit, seluruh rangkaian tindakan hingga pemulihan awal pascaoperasi berjalan lancar.
Tidak Semua Penyakit Jantung Harus Dioperasi
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang akrab disapa dr. Aan itu menjelaskan bahwa bedah toraks, kardiak, dan vaskular (BTKV) merupakan layanan pembedahan yang mencakup organ di rongga dada, jantung, serta pembuluh darah.
Namun, tidak semua kelainan jantung memerlukan operasi terbuka. Sebagian pasien dapat ditangani menggunakan obat-obatan maupun tindakan nonbedah seperti kateterisasi dan pemasangan ring atau stent.
Menurut penjelasan medis yang disampaikan dr. Aan, sedikitnya terdapat empat kelompok kondisi yang dapat menjadi pertimbangan tindakan bedah jantung.
Pertama, penyakit jantung koroner kompleks. Kondisi ini terjadi ketika penyumbatan berat ditemukan pada beberapa pembuluh darah utama jantung, termasuk tiga pembuluh koroner atau batang pembuluh koroner kiri (left main).
Pada kondisi tertentu, pemasangan ring melalui kateterisasi dinilai kurang efektif atau memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan operasi bypass jantung atau Coronary Artery Bypass Grafting (CABG).
Operasi bypass dilakukan untuk membuat jalur aliran darah melewati bagian pembuluh koroner yang mengalami penyempitan atau penyumbatan, sehingga suplai darah ke otot jantung dapat ditingkatkan.
Kedua, kerusakan katup jantung. Gangguan berupa penyempitan (stenosis) maupun kebocoran (regurgitasi) katup yang berat dapat mengganggu kerja jantung.
Apabila kondisi tersebut tidak dapat ditangani secara memadai dengan pengobatan atau tindakan berbasis kateter, dokter dapat mempertimbangkan operasi perbaikan maupun penggantian katup jantung.
Ketiga, kelainan jantung bawaan. Sejumlah gangguan struktur jantung sejak lahir, termasuk lubang pada sekat antarruang jantung seperti Atrial Septal Defect (ASD) atau Ventricular Septal Defect (VSD), dapat memerlukan tindakan pembedahan.
Meski demikian, kebutuhan operasi ditentukan berdasarkan jenis kelainan, ukuran dan letaknya, serta dampak terhadap fungsi jantung. Tidak semua kasus ASD atau VSD harus ditangani melalui operasi terbuka.
Keempat, tumor jantung dan penyakit aorta. Tindakan operasi juga dapat dipertimbangkan ketika ditemukan massa atau tumor tertentu di dalam jantung maupun gangguan pembuluh darah besar, seperti aneurisma aorta yang berisiko mengalami komplikasi serius.
Pemilihan tindakan pada seluruh kondisi tersebut harus didasarkan pada pemeriksaan menyeluruh, tingkat keparahan penyakit, serta penilaian dokter dan tim multidisiplin.
Kurangi Ketergantungan Rujukan Keluar Daerah
Pengembangan kemampuan bedah jantung terbuka di RSUD Raja Ahmad Tabib diharapkan memperluas pilihan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kepri.
Keberadaan layanan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan rujukan ke rumah sakit di luar provinsi, terutama untuk pasien yang kondisi medisnya dapat ditangani dengan aman sesuai kapasitas fasilitas dan tenaga kesehatan setempat.
Selain membantu pasien memperoleh penanganan lebih dekat dari tempat tinggal, penguatan layanan ini juga diharapkan mengurangi beban perjalanan dan pendampingan keluarga selama proses pengobatan.
Program proctorship bersama RSJPD Harapan Kita menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan, peningkatan keterampilan tenaga medis, dan pengembangan sistem pelayanan kardiovaskular di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau tersebut.
Dr. Aan menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga tim medis yang terlibat.
“Kami menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Kesehatan RI, Direksi dan Tim RSJPD Harapan Kita, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Direksi dan jajaran manajemen RSUD Raja Ahmad Tabib, tim proktor, seluruh tim klinis, panitia, serta pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas dedikasi dan dukungan luar biasa bagi kemajuan layanan kesehatan kardiovaskuler di Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau (Tanjungpinang),” ujar dr. Aan.
Keberhasilan penanganan kedua pasien tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan RSUD Raja Ahmad Tabib untuk meningkatkan mutu pelayanan jantung.
Dengan dukungan tenaga medis yang kompeten, fasilitas penunjang, dan pendampingan rumah sakit rujukan nasional, layanan bedah jantung di Tanjungpinang diharapkan dapat terus berkembang tanpa mengesampingkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
Penulis Basok Ridwan
Ia merupakan seorang jurnalis muda multitalenta yang saat ini aktif bergerak di bawah bendera BacaDulu.id. Dengan wilayah liputan strategis di Kepulauan Riau, ia berdedikasi menyajikan analisis tajam terkait kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga dinamika politik lokal. Profesionalisme dan integritasnya di ruang redaksi semakin kukuh setelah resmi mengantongi sertifikat kompetensi Wartawan Muda sejak 4 September 2026.

Jadikan





Saat ini belum ada komentar