Bismar Arianto: Wartawan Harus Punya Karya, Bukan Hanya Menulis Berita
- account_circle Basok Ridwan
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dr. Bismar Arianto, memberikan catatan menarik saat membedah buku (12/09/2026).
Tanjungpinang,
– Akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dr. Bismar Arianto, memberikan catatan menarik saat membedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Laman karya wartawan senior Ridarman Bay.
Menurut Bismar, sebuah tulisan yang awalnya mungkin dianggap sederhana atau bahkan “ecek-ecek”, pada suatu masa bisa memiliki nilai penting karena merekam fenomena sosial dan pemikiran pada zamannya.
Karena itu, ia menilai buku memiliki fungsi lebih jauh daripada sekadar menjadi kumpulan tulisan. Buku dapat menjadi dokumentasi pemikiran yang memungkinkan gagasan seseorang dibaca kembali oleh generasi berikutnya.
“Kadang-kadang kita menganggap sesuatu yang tidak serius, ternyata punya makna. Bisa jadi hari ini dianggap fenomena sosial biasa, tetapi ketika dituliskan, justru menjadi catatan penting,” demikian inti pemikiran Bismar dalam forum tersebut.
Bismar juga menyoroti pentingnya mendokumentasikan pemikiran lokal agar tidak berhenti hanya di ruang publik daerah.
Ia bahkan mengaitkannya dengan keberadaan buku karya Ridarman Bay di Perpustakaan Nasional. Menurutnya, ketika sebuah karya masuk dalam ekosistem perpustakaan, pemikiran yang lahir dari daerah memiliki kesempatan untuk dibaca lebih luas.
Bagi Bismar, menjadi penulis dari daerah bukan berarti pemikirannya hanya untuk konsumsi masyarakat daerah.
Justru, persoalan yang muncul di Tanjungpinang, Kepri atau daerah lain dapat menjadi bagian dari rekam sosial Indonesia apabila ditulis dan didokumentasikan dengan baik.
“Walaupun kita orang kampung, tetapi pemikiran kita bisa dibaca dan diketahui orang lain,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan Bismar.
Menurutnya, inilah salah satu alasan mengapa tradisi menulis perlu terus dipelihara. Namun, di balik apresiasinya terhadap karya Ridarman Bay, Bismar juga menyampaikan sebuah kegelisahan.
Ia menilai Kepri saat ini mulai kehilangan tradisi kolumnis yang dahulu cukup mewarnai media massa lokal.
Menurut Bismar, pada masa lalu terdapat penulis atau kolumnis yang secara rutin mengupas persoalan daerah melalui tulisan yang lebih mendalam. Mereka tidak sekadar menyampaikan berita, tetapi memberikan perspektif, analisis dan kritik terhadap berbagai persoalan yang terjadi.
Tradisi tersebut, menurutnya, kini semakin jarang ditemukan. Perkembangan media digital membuat ruang publik semakin ramai, tetapi belum tentu diikuti dengan hadirnya tulisan-tulisan panjang yang mampu membedah persoalan secara mendalam.
Padahal, keberadaan kolumnis dinilai penting untuk menjaga tradisi kritik konstruktif di tengah masyarakat.
“Ini mungkin menjadi tantangan kita bersama. Kita membutuhkan kolumnis yang setiap minggu mengupas isu secara lebih mendalam,” demikian inti pandangan Bismar.
Bismar menekankan, kritik yang dibutuhkan bukanlah kritik yang sekadar mencari kesalahan atau menjatuhkan seseorang.
Kritik harus dibangun berdasarkan informasi yang memadai, argumentasi dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, ruang kritik yang sehat justru diperlukan untuk mengingatkan pemerintah, lembaga maupun masyarakat ketika terdapat persoalan yang perlu diperbaiki.
Tanpa kritik yang konstruktif, ruang publik berpotensi kehilangan salah satu fungsi pentingnya sebagai tempat menguji kebijakan dan gagasan.
Namun, kritik juga harus disampaikan secara bertanggung jawab. Seorang penulis, kata Bismar, perlu memiliki bekal informasi yang cukup sebelum menyampaikan pendapatnya kepada publik.
Artinya, proses menulis tidak boleh hanya berangkat dari asumsi atau informasi yang belum teruji.
Membaca, mencari informasi dan melakukan verifikasi menjadi bagian penting sebelum sebuah gagasan dituangkan menjadi tulisan.
Bismar juga memberikan catatan terhadap buku Menjaga Nurani. Ia melihat karya Ridarman Bay sebagai kumpulan tulisan opini dan refleksi yang lahir dari berbagai momentum serta pengalaman penulis.
Namun, menurutnya, tantangan berikutnya adalah bagaimana karya-karya semacam itu dapat dikembangkan menjadi tulisan yang lebih fokus terhadap suatu isu.
Misalnya, sebuah tulisan tidak hanya berhenti pada fenomena yang terjadi, tetapi dilanjutkan dengan pertanyaan: apa persoalannya, mengapa terjadi, apa dampaknya dan apa yang seharusnya dilakukan?
Dengan pendekatan tersebut, menurut Bismar, sebuah karya akan memiliki kedalaman analisis yang lebih kuat.
Catatan tersebut bukan untuk mengurangi nilai buku Menjaga Nurani, melainkan menjadi masukan agar tradisi menulis di Kepri dapat terus berkembang.
Dalam pandangan Bismar, wartawan memiliki posisi strategis dalam membangun tradisi literasi dan pemikiran di daerah.
Sebab, wartawan setiap hari berhadapan dengan berbagai peristiwa. Dari peristiwa tersebut sebenarnya terdapat banyak persoalan yang dapat dikembangkan menjadi tulisan analitis maupun karya buku.
Karena itu, ia mendorong agar pengalaman jurnalistik tidak berhenti ketika berita diterbitkan. Berita dapat menjadi catatan awal. Dari sana, seorang wartawan dapat menggali lebih dalam, mengumpulkan data, membaca berbagai perspektif, kemudian melahirkan tulisan yang memiliki nilai lebih panjang.
Dari sinilah seorang wartawan dapat berkembang menjadi kolumnis atau penulis yang memiliki karakter.
Bismar menilai kegiatan bedah buku seperti yang dilakukan KJK menjadi salah satu ruang penting untuk menghidupkan kembali tradisi membaca, menulis dan berdiskusi.
Menurutnya, daerah membutuhkan lebih banyak ruang yang mempertemukan wartawan, akademisi, praktisi, penyelenggara negara dan masyarakat untuk membicarakan persoalan secara terbuka.
Buku Menjaga Nurani, kata dia, setidaknya telah membuka ruang tersebut. Dari satu buku, muncul pembicaraan tentang jurnalistik, fenomena sosial, kritik, literasi, media hingga masa depan tradisi menulis di Kepri.
Dan bagi Bismar, tantangan ke depan bukan sekadar memperbanyak jumlah buku yang diterbitkan. Tapi lebih penting adalah bagaimana Kepri kembali melahirkan penulis dan kolumnis yang berani berpikir, berani mengkritik, tetapi tetap bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya.
Penulis Basok Ridwan
Basok Ridwan adalah seorang jurnalis pemerhati dinamika kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, serta konstelasi politik lokal. Ketajamannya dalam mengawal isu-isu strategis daerah semakin matang setelah ia resmi mengantongi sertifikasi kelulusan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Jenjang Muda pada tahun 2026. Melalui karya-karyanya, ia konsisten menyajikan laporan mendalam seputar birokrasi dan profil tokoh yang memengaruhi arah kebijakan daerah.

Jadikan
Saat ini belum ada komentar