Bedah Buku Menjaga Nurani, KJK Didorong Jadi Penggerak Budaya Literasi di Kepri
- account_circle Basok Ridwan
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dr. Darson turut hadir dalam kegiatan Bedah Buku di Kantor KJK (12/9/2026).
Tanjungpinang,
– Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) didorong mengambil peran lebih besar dalam menumbuhkembangkan budaya literasi di Kepulauan Riau. Dorongan tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman yang digelar di Gedung KJK, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 09.15 hingga 12.00 WIB itu menghadirkan Dr. Darson sebagai pembicara. Diskusi tidak hanya membedah isi buku, tetapi juga mengangkat tantangan dunia jurnalistik, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga pentingnya menjaga idealisme dan nurani dalam ruang publik.
Dr. Darson menilai buku tersebut memiliki karakter yang cukup beragam karena memuat enam bab yang berisi kumpulan opini penulis. Berbagai pengalaman penulis ketika mengikuti kegiatan organisasi, seminar, maupun fenomena sosial kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan.
Menurutnya, buku tersebut lahir dari kegelisahan penulis terhadap perubahan kehidupan masyarakat yang berlangsung sangat cepat, terutama di tengah perkembangan teknologi digital dan semakin kuatnya ketergantungan terhadap AI.
“Nurani secara etimologi merupakan cahaya dalam hati. Perkembangan teknologi di era disrupsi telah membawa perubahan masif dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan-tulisan dalam buku ini merupakan tumpahan pikiran dan kegelisahan penulis terhadap fenomena yang terjadi,” demikian salah satu pokok pembahasan dalam diskusi tersebut.
Dr. Darson juga berharap KJK dapat menjadi leading sector dalam pengembangan budaya literasi di Kepri. Pemerintah, melalui Dinas Pemuda dan Olahraga, disebut siap berkolaborasi dalam upaya pengembangan budaya literasi di daerah.
Ia menilai kegaduhan yang terjadi di ruang publik maupun dunia maya membutuhkan upaya sadar untuk mengelola hati nurani dan moralitas sosial. Dalam konteks tersebut, buku Menjaga Nurani dinilai dapat menjadi pelengkap wacana sosial, kebijakan, dan spiritualitas pribadi untuk merawat kepekaan sosial di ruang publik.
Diskusi semakin menarik ketika memasuki sesi tanggapan dan pertanyaan dari peserta.
Dr. Bismar mengutip pemikiran filsuf René Descartes, cogito ergo sum, atau “saya berpikir maka saya ada”. Menurutnya, menulis merupakan salah satu cara untuk membuat gagasan seseorang tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.
Ia juga menekankan pentingnya idealisme dan militansi seorang jurnalis. Menurutnya, karya jurnalistik maupun tulisan opini harus tetap memiliki tanggung jawab terhadap publik.
Dalam pembahasan mengenai masa depan Kepri, Bismar juga menyinggung pentingnya fakta dan isu-isu daerah untuk terus dibedah agar diketahui masyarakat. Ia berharap karya-karya seperti buku tersebut dapat terus dikembangkan dan memiliki ISBN.
Sementara itu, Komisioner KPU Kepri, Priyo, menilai menulis sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan penulis.
Ia mengapresiasi isi buku, namun menyarankan agar karya serupa ke depan dapat dikelompokkan berdasarkan tema sehingga pembahasannya lebih fokus. Dalam diskusi tersebut juga muncul pembahasan mengenai paparan informasi radikalisme dan ekstremisme di Kepri.
Wartawan senior sekaligus Manajer Produksi Media, Sigit, memberikan apresiasi terhadap KJK sebagai forum bagi kalangan media.
Ia mengibaratkan buku Menjaga Nurani seperti makanan gado-gado, karena memiliki beragam tema dan gagasan yang bercampur dalam satu karya.
Namun, Sigit juga menyoroti perubahan posisi media dalam kehidupan demokrasi. Jika sebelumnya media kerap disebut sebagai pilar keempat demokrasi, menurutnya saat ini terdapat tantangan ketika media justru dapat menjadi bagian dari birokrasi atau bahkan berperan sebagai juru bicara dan perpanjangan kebijakan pemerintah.
Perkembangan teknologi, khususnya AI, menurut Sigit merupakan sebuah keniscayaan. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara positif selama digunakan secara tepat.
“Tantangannya adalah bagaimana memasarkan ide yang ada di dalam buku sehingga dapat memberikan nilai, termasuk dengan memanfaatkan teknologi AI,” menjadi salah satu pokok pandangan yang disampaikan dalam diskusi.
Meski demikian, ia menilai tulisan dalam buku tersebut masih bisa dibuat lebih “liar” dalam mengeksplorasi ide dan pemikiran.
Aktivis pemerhati kebijakan, Mag Say Say, turut mendorong penguatan budaya menulis. Ia mengutip pengalaman dari Jepang bahwa kebiasaan menulis buku harian dapat menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan budaya literasi.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Komisi Informasi Publik (KIP), Arison. Ia melihat terdapat nilai manajemen pemasaran dalam buku tersebut dan menilai karya itu memiliki kekuatan sebagai bagian dari identitas penulis.
Sementara Ketua Forhati, Fitri, yang merupakan praktisi psikologi, menilai buku tersebut mampu menyentuh sisi emosional pembacanya.
Menurut Fitri, ketidakfokusan tema justru dapat menunjukkan sisi manusiawi sebuah karya sekaligus menjadi bagian dari personal branding penulis. Ia juga menyinggung konsep reduksi kognitif serta pentingnya soft skill yang tidak mudah digantikan oleh AI.
Diskusi kemudian ditutup dengan pesan bahwa budaya menulis harus dimulai dari hal-hal sederhana.
Menulis tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Gagasan dapat dituangkan dari pengalaman sehari-hari, kegelisahan, maupun sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan penulis.
“Mulailah dari kecil-kecil. Menulis sesuatu yang gampang, tetapi tidak semua dapat melakukannya,” menjadi salah satu pesan penutup kegiatan tersebut.
Bedah buku Menjaga Nurani: Suara di Simpang Zaman ini tidak hanya menjadi ruang untuk membicarakan sebuah buku, tetapi juga menjadi refleksi mengenai posisi jurnalis, masa depan media, perkembangan AI, dan tanggung jawab menjaga nurani di tengah derasnya arus informasi.
Akok
Penulis Basok Ridwan
Basok Ridwan adalah seorang jurnalis pemerhati dinamika kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, serta konstelasi politik lokal. Ketajamannya dalam mengawal isu-isu strategis daerah semakin matang setelah ia resmi mengantongi sertifikasi kelulusan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Jenjang Muda pada tahun 2026. Melalui karya-karyanya, ia konsisten menyajikan laporan mendalam seputar birokrasi dan profil tokoh yang memengaruhi arah kebijakan daerah.

Jadikan
Saat ini belum ada komentar