Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Opini » Dari Buku yang Menjadi Nyata hingga Biografi yang Menyisakan Luka Kebohongan

Dari Buku yang Menjadi Nyata hingga Biografi yang Menyisakan Luka Kebohongan

  • account_circle Ady Indra Pawennari
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Jumat pagi (23/10/2026), sebuah pesan WhatsApp dari senior saya, Ridarman Bay, masuk ke telepon genggam. “Ady, buku Catatan Pinggir Tiga Wartawan Pulau sudah sampai,” tulisnya singkat.

“Oke, besok kita ngopi,” jawab saya.

Sederhana. Namun, di balik percakapan singkat itu, ada kebahagiaan yang diam-diam tumbuh. Sebuah gagasan yang pernah lahir dari obrolan di kedai kopi akhirnya menjelma menjadi buku. Bukan lagi sekadar wacana, bukan pula janji yang mengambang di udara. Kali ini, ada sesuatu yang benar-benar bisa disentuh, dibuka, dibaca, dan kelak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sabtu siang, Ridarman datang membawa bungkusan besar. Amril Agin dan Ambok Akok sudah menemani kami. Begitu bungkusan dibuka, buku-buku itu dibagikan kepada kami berempat.

“Bagus cover-nya. Artistik dan eye-catching,” ujar Amril sambil mengamati sampulnya dari berbagai sudut.

Saya mengangguk. Sekilas, saya sepakat dengannya.

Namun, bagi saya, keindahan buku itu bukan semata-mata terletak pada sampulnya. Ada kebahagiaan yang lebih dalam ketika melihat nama sendiri tercetak di sana. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan saat menyadari bahwa tulisan-tulisan yang dahulu hanya berserakan di halaman media kini telah menemukan rumahnya sendiri.

Buku itu bernama Catatan Pinggir Tiga Wartawan Pulau: Sekumpulan Opini & Inspirasi dari Pelosok Kepulauan.

Catatan Pinggir, atau Caping, menghimpun 35 naskah dari tiga wartawan: saya dengan 13 tulisan, Suyono Saeran dengan 12 opini, dan Ridarman Bay dengan 10 artikel.

Buku ini bermula dari obrolan sore di sebuah kedai kopi di kawasan Batu 8 Atas. Di antara percakapan ringan dan aroma kopi, Ridarman melontarkan gagasan sederhana: wartawan sebaiknya meninggalkan jejak melalui buku, bukan hanya melalui berita yang setiap hari dibaca, lalu dilupakan bersama pergantian waktu.

Saya menyambut gagasan itu dengan antusias. Apalagi, di antara kami bertiga, hanya saya yang belum pernah menerbitkan buku.

Sejak mulai menjadi wartawan pada 1996, saya merasa sudah cukup banyak menulis opini. Sayangnya, naskah-naskah itu tercecer entah di mana.

“Tulisan saya banyak. Tapi entah di mana sekarang. Nantilah saya kumpulkan,” ujar saya waktu itu.

Kami sepakat masing-masing menyumbangkan 10 tulisan. Dalam perjalanan, saya menyerahkan 13 naskah, sedangkan Suyono menyumbangkan 12 opini. Ridarman tetap dengan 10 artikelnya.
Begitulah.

Gagasan yang semula hanya menjadi teman obrolan di kedai kopi perlahan menemukan bentuknya. Melalui Komunitas Jurnalis Kepri (KJK), buku itu akhirnya terbit.

Saya tidak pernah membayangkan Caping akan menjadi sesuatu yang begitu berarti bagi perjalanan pribadi saya. Semula, saya hanya ingin ikut merawat tradisi menulis.

Namun, ketika buku itu benar-benar berada di tangan, saya merasakan kebahagiaan yang berbeda: ternyata, gagasan sederhana yang disambut dengan ketulusan dapat melahirkan sesuatu yang nyata.

Di situlah saya menyadari, sebuah karya tidak selalu harus lahir dari ambisi besar. Terkadang, ia tumbuh dari percakapan sederhana, dari persahabatan, dan dari kesediaan untuk menepati apa yang telah disepakati.

Namun, kebahagiaan itu rupanya juga membuka pintu bagi sebuah kenangan lama yang selama ini berusaha saya simpan jauh-jauh.

Ketika membawa Caping pulang dan melihat nama saya tercetak di sampulnya, ingatan tentang sebuah buku lain perlahan muncul. Buku yang semestinya sudah terbit tiga tahun lalu. Buku yang bukan kumpulan tulisan tiga wartawan, melainkan biografi tentang perjalanan hidup saya sendiri.

Ironisnya, buku itu hingga kini tak pernah menjadi kenyataan.

Tiga tahun lalu, seorang rekan sejawat datang dengan gagasan menulis biografi saya. Awalnya, saya justru merasa tidak pantas. Menurut saya, perjalanan hidup saya belumlah sedemikian istimewa hingga harus dibukukan. Namun, ia meyakinkan saya.

“Abang ini sudah tepat dibikin biografi. Banyak prestasi yang sudah Abang torehkan dan bisa jadi inspirasi,” ujarnya.

Saya termenung. Ada rasa sungkan, tetapi juga terselip kebahagiaan. Bukan karena ingin dipuji atau dikenang sebagai orang hebat, melainkan karena ada seseorang yang menganggap perjalanan hidup dan pengabdian saya layak dicatat.

Saya pun mempertimbangkan rekam jejaknya. Ia seorang jurnalis yang piawai, berlatar pendidikan sarjana dari perguruan tinggi Islam, dan dikenal memiliki sejumlah karya tulis berbobot.

Bagi saya, ia bukan wartawan sembarangan. Saya percaya pada kapasitasnya, terlebih karena kami sama-sama tumbuh dari dunia jurnalistik.
Akhirnya, saya mengiyakan.

Data, dokumen, dan tulisan pendukung saya kirimkan. Ketika ia meminta bantuan untuk membeli laptop guna menunjang proses penulisan, saya menyanggupinya. Uang langsung saya transfer ke rekening BCA miliknya.

Tak lama kemudian, saya kembali mengirimkan biaya operasional agar proses penyusunan biografi itu berjalan lancar.

Saat itu, hati saya berbunga-bunga. Saya membayangkan suatu hari nanti akan ada sebuah buku yang merekam perjalanan panjang saya sebagai wartawan. Bukan untuk membanggakan diri, apalagi merasa lebih hebat daripada orang lain, melainkan sebagai catatan perjalanan yang mungkin dapat dipetik pelajarannya oleh generasi sesudah saya.

Beberapa bulan kemudian, saya menanyakan perkembangannya. Jawabannya, penulisan masih berproses. Saya memaklumi. Menulis buku memang membutuhkan waktu, ketekunan, dan kesungguhan.

Namun, waktu terus berjalan. Menjelang setahun, kabarnya mulai menghilang. Pesan-pesan saya tak lagi mendapat jawaban sebagaimana sebelumnya. Saya mencoba menghubunginya, berharap memperoleh penjelasan tentang janji yang pernah ia ucapkan.
Sayangnya, harapan itu tak kunjung menemukan jawaban.

Kini, tiga tahun telah berlalu. Biografi yang dijanjikan tak pernah terbit. Tak ada buku, tak ada naskah yang diserahkan, bahkan tak ada penjelasan yang memadai untuk menutup penantian panjang tersebut.

Yang tersisa hanyalah ingatan tentang sebuah janji dan pertanyaan yang terus mengendap di kepala.

Kau yang memulai, kau pula yang berjanji. Mengapa akhirnya saya yang harus menanggung kecewa?

Saya kira kekecewaan itu sudah cukup menjadi pelajaran. Ternyata, persoalannya tidak berhenti pada biografi yang tak kunjung selesai.

Hubungan kami justru berubah menjadi sesuatu yang tak pernah saya bayangkan: permusuhan.
Suatu hari, saya menerima tangkapan layar percakapan dari sebuah grup WhatsApp bernama PWI Berintegritas. Di dalamnya, terdapat pesan yang mendorong wartawan memberitakan saya seolah-olah sedang ditangkap dan ditahan polisi.

Saya terkejut. Sebab, pada saat itu, saya tidak sedang ditahan polisi. Namun, narasi tersebut telanjur bergulir.

Berdasarkan penelusuran saya melalui Google, sedikitnya 25 media memuat pemberitaan bernada negatif tentang saya. Menurut penilaian saya, sejumlah pemberitaan itu tidak memberi ruang yang layak bagi konfirmasi dan verifikasi, bahkan cenderung menghakimi.

Bagi saya, ini bukan lagi sekadar persoalan pribadi. Ada prinsip jurnalistik yang dipertaruhkan.

Wartawan boleh berbeda pandangan. Kritik terhadap siapa pun juga merupakan bagian dari kebebasan pers.

Namun, kebebasan itu tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab untuk memeriksa fakta, menguji informasi, dan memberikan kesempatan kepada pihak yang diberitakan untuk menyampaikan penjelasan.

Apalagi, ketika seseorang tidak sedang berada dalam tahanan, tidak ada alasan untuk mengabaikan upaya konfirmasi kepadanya.

Saya kemudian mengadukan persoalan pemberitaan tersebut kepada Dewan Pers. Dalam proses penyelesaiannya, sejumlah media menyampaikan permintaan maaf atas pemberitaan yang keliru mengenai diri saya.

Namun, menurut catatan saya, masih ada satu media yang tidak bersedia menempuh langkah serupa.

Belakangan, saya mengetahui bahwa pemimpin redaksi media tersebut adalah orang yang dahulu berjanji menulis biografi saya.
Di titik itulah kekecewaan saya terasa semakin dalam.

Bukan semata-mata karena sebuah buku tidak pernah selesai. Bukan pula karena uang dan waktu yang telah saya keluarkan.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa seseorang yang pernah saya percaya justru berada di tengah persoalan yang membuat saya merasa disudutkan oleh sesama wartawan.

Saya tidak ingin berspekulasi tentang motif di balik sikap tersebut. Namun, saya berhak mempertanyakan mengapa hubungan yang semula dibangun atas kepercayaan akhirnya berubah menjadi permusuhan.

Beberapa rekan menyarankan agar saya menempuh jalur hukum atas janji yang tidak ditepati dan kerugian yang saya alami. Saya memahami saran itu.

Akan tetapi, setiap kali hendak melangkah lebih jauh, ada sesuatu di dalam hati yang menahan saya. Kami lahir dari rahim yang sama, rahim jurnalistik.

Kami sama-sama mengenal dunia yang mengajarkan pentingnya kata, fakta, tanggung jawab, dan keberanian mempertahankan kebenaran.

Karena itu, saya selalu bertanya kepada diri sendiri, mengapa orang-orang yang seharusnya memahami etika profesi justru bisa saling melukai dengan cara seperti ini?

Saya tidak pernah menuntut semua orang harus menyukai saya. Saya pun tidak berharap setiap wartawan selalu sepakat dengan pandangan saya. Perbedaan adalah hal biasa. Kritik juga bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Namun, ada batas yang semestinya tidak dilampaui, jangan biarkan perbedaan berubah menjadi penghakiman, dan jangan jadikan profesi jurnalistik sebagai alat untuk menggiring orang lain membenci seseorang tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenaran.

Yang paling menyedihkan, saya merasa seolah-olah dijadikan musuh bersama oleh sekelompok wartawan. Bukan karena sebuah perdebatan gagasan yang sehat, melainkan karena rangkaian peristiwa yang hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan bagi saya.

Kini, di hadapan dua pengalaman yang bertolak belakang, saya menemukan makna baru dari sebuah buku.

Ridarman mengusulkan agar kami menulis buku. Saya menyambutnya, lalu kami bekerja bersama hingga Caping benar-benar terbit. Dalam waktu sekitar dua bulan, gagasan itu menemukan wujudnya. Ada proses, ada kerja, dan akhirnya ada hasil yang bisa kami pegang.

Sementara itu, seorang rekan menawarkan untuk menulis biografi saya. Saya percaya, saya memberikan data, bahkan membantu menyediakan sarana dan biaya operasional yang dimintanya. Namun, setelah tiga tahun, janji itu tetap menjadi janji.

Dua gagasan. Dua kepercayaan. Dua hasil yang berbeda. Yang satu menjelma buku dan menghadirkan kegembiraan. Yang lain meninggalkan kekecewaan yang tak mudah dihapuskan.

Saya tidak menyesali keputusan untuk percaya. Sebab, kepercayaan adalah bagian dari kemanusiaan. Tanpa kepercayaan, persahabatan akan kehilangan makna dan kerja bersama akan sulit tumbuh. Namun, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kepercayaan juga harus dijaga dengan tanggung jawab.

Bagi saya, biografi yang tak pernah terbit itu kini bukan lagi sekadar buku yang gagal diwujudkan. Ia menjadi pengingat bahwa tidak semua orang yang pandai merangkai kata mampu menepati kata-katanya sendiri.

Sebaliknya, Caping mengajarkan hal yang sederhana, tetapi mendalam: kesungguhan tidak membutuhkan terlalu banyak janji. Ia cukup dibuktikan melalui kerja.

Terima kasih, Bang Ridarman Bay. Terima kasih juga kepada Suyono Saeran dan semua pihak yang ikut menghadirkan Catatan Pinggir Tiga Wartawan Pulau ke tangan kami.

Buku ini mungkin hanya satu dari sekian banyak karya literasi yang lahir dari dunia jurnalistik Kepulauan Riau. Namun, bagi saya, ia memiliki arti yang jauh lebih personal. Ia membuktikan bahwa sebuah gagasan dapat menjadi kenyataan ketika dirawat dengan ketulusan dan dituntaskan dengan tanggung jawab.

Kini, ketika membuka halaman demi halaman Caping, saya tidak hanya membaca kumpulan opini. Saya sedang membaca sebuah pelajaran tentang persahabatan, kepercayaan, dan harga sebuah komitmen.

Saya juga belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua luka harus dibalas dengan luka. Ada kalanya kita cukup berdiri tegak, menjaga martabat, dan membiarkan waktu memperlihatkan siapa yang sungguh-sungguh bekerja dan siapa yang sekadar pandai berjanji.

Sebab, pada akhirnya, wartawan tidak hanya meninggalkan jejak melalui berita yang ditulisnya. Ia juga meninggalkan jejak melalui sikap, integritas, dan tanggung jawab atas setiap kata yang pernah diucapkannya.

Dan hari ini, saya memegang sebuah buku yang menjadi bukti nyata bahwa janji yang dirawat bersama dapat menjelma karya.

Sementara biografi yang pernah dijanjikan kepada saya, biarlah menjadi pengingat bahwa tidak semua kata akan menemukan wujudnya.
Sebab, karya boleh sederhana, tetapi kejujuran harus tetap luar biasa. Dan janji, betapapun indah bunyinya, tidak akan pernah bisa menggantikan bukti.

Penulis

Memulai karier jurnalistiknya sejak tahun 1996 di SKM GeNTA, Suara Riau, Sijori Mandiri hingga mendirikan bintanpos.com, media siber pertama di Kepulauan Riau tahun 2001. Kini, Ia menjabat sebagai Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less