Revolusi Bansos Digital: Pemerintah Tutup Celah Judi Online Lewat Skema Non-Tunai dan AI
- account_circle Amril Agin
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan memberi keterangan pers (10/09/2026)
Jakarta,
— Pemerintah Indonesia bersiap mengambil langkah tegas untuk membersihkan karut-marut penyaluran bantuan sosial (bansos). Di bawah komando Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, negara akan sepenuhnya meninggalkan era transfer tunai (cash transfer) demi menutup rapat-rapat peluang penyalahgunaan anggaran—termasuk untuk praktik judi online yang kian meresahkan.
Luhut memaparkan, sistem perlindungan sosial (Perlinsos) digital berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence) ditargetkan mulai meluncur pada minggu ketiga Oktober 2026, dengan implementasi penuh dana langsung ke rekening pada kuartal I 2027.
“Kami sepakat tidak ada lagi cash transfer, jadi semua cashless transaction. Ini juga untuk mengurangi korupsi karena setiap transaksi harus ada dasarnya,” ujar Luhut di Kantor DEN, Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Skema Ketat dan Prioritas Kaum Ibu
Guna memastikan dana bantuan benar-benar mendarat untuk kebutuhan dapur, bukan meja judi virtual, pemerintah merancang mekanisme pengeluaran yang dikunci secara ketat. Opsi penggunaan sistem kupon digital atau pembatasan belanja tengah dimatangkan agar dana bantuan hanya bisa terserap untuk komoditas esensial.
“Jadi, hanya mungkin bayar listrik, bayar beras, bayar bensin, segala macam. Jadi di lapangan nanti akan jadi market mechanism. Ini membuat kita lebih transparan,” tambahnya.
Sebagai strategi pengamanan berlapis, penyaluran dana ini nantinya juga akan diprioritaskan langsung kepada para ibu rumah tangga. Berdasarkan kalkulasi pemerintah, kelompok perempuan dinilai jauh lebih bijak dan memiliki risiko minimal terlibat dalam aktivitas judi online ketimbang anggota keluarga lainnya.
Pada tahap awal, transformasi digital ini akan menyasar sekitar 50 juta jiwa dari kelompok masyarakat rentan (masuk dalam kategori desil 1 hingga 5).
Integrasi Rekening Massal dan Peran Perbankan
Langkah besar ini tidak berjalan sendiri. Pemerintah mendesain pembukaan rekening massal secara otomatis yang bekerja sama dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang agar setiap warga berusia di atas 18 tahun yang belum memiliki akses perbankan bisa segera tersentuh sistem keuangan formal. Proses integrasi ini melibatkan koordinasi lintas instansi, mulai dari Direktorat Jenderal Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Bank Indonesia (BI), hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Bahkan, ke depannya, pemerintah tengah mengkaji kebijakan di mana setiap warga negara yang melakukan pencetakan KTP baru akan langsung otomatis dibuatkan rekening bank. Melalui ekosistem digital yang terintegrasi penuh ini, negara optimistis distribusi jaring pengaman sosial tidak hanya tepat sasaran secara akurat, tetapi juga kebal dari penyelewengan di tingkat akar rumput.
Penulis Amril Agin
Amril Agin memulai perjalanan karier jurnalistiknya sejak tahun 2002 melalui berbagai media, seperti Harian Sijori Mandiri, Koran Peduli, serta portal berita daring mediakepri.com, sijorikepri.com, dan radarbintan.com. Berbekal pengalaman panjang di dunia pers, ia kini dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Jadikan
Saat ini belum ada komentar