Breaking News
light_mode
TRENDING
Beranda » Opini » Pinisi Kakek Karam Diamuk Badai, Kini Sang Cucu Jadi Syahbandar Pengatur Kapal

Pinisi Kakek Karam Diamuk Badai, Kini Sang Cucu Jadi Syahbandar Pengatur Kapal

  • account_circle Ady Indra Pawennari
  • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Bagi anak-anak yang lahir di rahim pesisir—di mana batas tanah menyerah pada pelukan samudra—laut bukanlah dinding penyekat. Laut adalah jalan raya tanpa tepi, tempat mimpi dilarungkan, dan tempat keberanian diuji di atas buih gelombang.

Di atas tanah Tarempa, Kepulauan Anambas—seuntai permata yang terapung di beranda utara Nusantara—seorang anak laut bernama Jemi Permana lahir pada 15 Mei 1982.

Di dalam nadinya, mengalir deras darah pelaut ulung Bugis. Sebuah warisan ketangguhan yang membuktikan bahwa badai sedahsyat apa pun tidak akan pernah mampu menenggelamkan takdir seseorang.

Kisah Jemi adalah gema dari pelayaran sunyi masa lalu yang membentuk karakter kepemimpinannya hari ini.

Tragedi Pinisi dan Jangkar Takdir di Anambas

Jauh sebelum ia lahir, sekitar tahun 1950-an, seorang remaja belasan tahun bernama M. Yusuf—yang kelak menyandang gelar adat Daeng Mattangnga namun lebih akrab dipanggil Daeng Supuk—berdiri di atas geladak perahu Pinisi. Ia meninggalkan garis pantai Salomekko, Teluk Bone, Sulawesi Selatan, demi memburu cahaya ilmu di tanah Jawa.

Namun, laut selalu menyimpan rahasianya sendiri. Di ambang gerbang Surabaya, langit mendadak menghitam. Ombak menggulung murka, menghantam keras, dan mengaramkan Pinisi yang dinakhodai kakeknya. Seluruh muatan palawija tenggelam ke dasar samudra. Tragedi itu memisahkan sang ayah dari pelukan keluarganya.

Terdampar dan sebatang kara, Daeng Supuk mengembara dari Jawa hingga Sumatera. Hingga akhirnya, takdir menuntun tangannya untuk menancapkan jangkar kehidupan di Kepulauan Anambas.

Di pulau yang dikepung laut perbatasan ini, ia memeluk takdir baru. Ia mempersunting wanita keturunan Melayu-Tionghoa dan kembali mengarungi samudra sebagai pelaut tangguh. Ia membawa hasil bumi Anambas menembus Singapura dan Malaysia di era ketika ringgit dan dolar masih merajai perniagaan.

Hingga wafat pada tahun 2008, ia mengabdi sebagai Penasehat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kabupaten Kepulauan Anambas—menjadi kompas bagi sesama perantau yang merindukan jalan pulang.

Aroma Barongko dan Tabir Rindu yang Tersingkap

Tumbuh sebagai anak kedua di pulau terluar, Jemi kecil adalah saksi dari kerinduan ayahnya yang tak bertepi pada tanah kelahiran. Kerinduan itu menjelma dalam aroma manis barongko dan kesegaran es pisang ijo buatan ibunya.

Pada hari Lebaran, rumah mereka selalu penuh sesak oleh perantau yang datang menjemput rasa rindu lewat sepiring burasa’, leppe’-leppe’ dan tapai ketan hitam.

Sang ayah sempat lupa alamat rumahnya di Salomekko, Bone, namun pesannya selalu abadi. “Suatu saat, ketika kepala sudah memutih (Haji), kita akan pulang.”

Tuhan mendengar rindu yang dilarungkan ke laut. Melalui sebuah kapal tanker yang bersandar di Tarempa, sang ayah mengundang sang nakhoda Bugis ke rumah mereka. Di ruang tamu itulah, tabir sejarah puluhan tahun tersingkap.

Sang nakhoda ternyata adalah tetangga dekat nenek Jemi yang menetap di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, dan menjalankan usaha angkutan laut dengan tiga kapal Pinisi warisan kakek.

Pada tahun 1993, pelayaran emosional membawa keluarga Jemi ke Jakarta. Untuk pertama kalinya, mereka memeluk sang nenek dan tiga pamannya—Daeng Mangngatta, Daeng Situruk, dan Daeng Malewa. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah pengingat abadi bagi Jemi, bahwa ia adalah anak cucu para penguasa lautan.

Menempa Diri di Laut Lepas

Darah maritim yang diwariskan dari tragedi Pinisi tidak pernah menguap. Ia menjelma menjadi bahan bakar dalam jiwa Jemi Permana. Usai menyelesaikan sekolah di Tarempa, ia memutuskan untuk menantang gelombang takdirnya sendiri.

Tahun 2000, ia merantau ke Jakarta, menuntut ilmu di Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya hingga meraih lisensi Ahli Nautika Tingkat III (ANT-III) pada tahun 2004. Jemi memulai petualangannya di laut lepas, bekerja di kapal-kapal supply offshore industri migas global.

Namun, panggilan untuk membangun tanah kelahiran selalu lebih kuat dari gemuruh mesin kapal asing. Ia kembali ke darat, menjadi Jetty Master di perusahaan minyak Amerika, sembari menyelesaikan gelar Sarjana di STMT Trisakti Jakarta.

Langkah pengabdiannya semakin kukuh ketika pada Januari 2011, ia lulus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan Kabupaten Kepulauan Anambas.

Jemi tidak pernah berhenti belajar. Di sela tugasnya, ia kembali menempa diri di BP3IP Jakarta hingga meraih gelar Ahli Nautika Tingkat II (ANT-II) dan menuntaskan pendidikan pascasarjana sebagai Magister Manajemen Transportasi (M.M.Tr.) dari ITL Trisakti.

Kompas Masa Depan Anambas

Kini, setelah melewati berbagai pos penugasan dari Subi, Serasan, hingga Ranai di garda terdepan Natuna, Jemi Permana berdiri tegak sebagai Plt. Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Tarempa.

Ia adalah sang Syahbandar—penjaga keselamatan, ketertiban, dan urat nadi maritim di tanah kelahirannya sendiri.

Bagi masyarakat Kepulauan Anambas yang wilayahnya didominasi oleh lautan, sosok Jemi Permana adalah jawaban atas kerinduan akan lahirnya pemimpin yang berkarakter maritim, tangguh menghadapi badai, memiliki visi seluas samudra, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai tradisi dan pengabdian.

Jemi telah membuktikan bahwa lahir di wilayah terluar bukanlah sebuah batas akhir, melainkan sebuah garis start untuk memimpin. Jika dahulu kakeknya kehilangan Pinisi dalam amukan badai, kini sang cucu berdiri sebagai Syahbandar yang mengatur jalannya kapal-kapal di samudera yang sama.

Dalam sebuah perbincangan khusus dengan Ketua Badan Pengurus Wilayah (BPW) KKSS Kepulauan Riau, Ady Indra Pawennari di Tanjungpinang, Ia kenyampaikan sebuah pesan bermakna mendalam untuk generasi muda Anambas.

“Jangan pernah merasa kerdil karena terlahir di pulau yang jauh dari pusat benua. Laut di depan rumahmu bukan pemisah, melainkan jalan bentang yang menantangmu untuk melangkah. Pasang layar mimpimu setinggi langit, genggam kemudi hidupmu dengan sekoci ilmu, dan jadilah nakhoda yang tangguh di negerimu sendiri!”

Penulis

Memulai karier jurnalistiknya sejak tahun 1996 di SKM GeNTA, Suara Riau, Sijori Mandiri hingga mendirikan bintanpos.com, media siber pertama di Kepulauan Riau tahun 2001. Kini, Ia menjabat sebagai Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK).

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolda Kepri berbicara tentang perlindungan pekerja migran di Batam

    Mereka Pergi Membawa Mimpi, Kapolda Kepri Menjaga Harapan untuk Pulang

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Basok Ridwan
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Batam, — Setiap keberangkatan selalu membawa harapan. Ada mimpi tentang kehidupan yang lebih baik, ada keluarga yang menunggu, dan ada masa depan yang ingin diperjuangkan. Semangat itulah yang mengemuka dalam Seminar Internasional dan Misa Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia 2026 yang digelar di Grand Ballroom Pacific Palace Hotel Batam, Minggu (20/9/2026). Kapolda Kepulauan Riau Irjen […]

  • Penghargaan Bapenda Riau atas kolaborasi keselamatan lalu lintas

    Bapenda Riau Raih Penghargaan Polda, Sinergi Keselamatan Lalu Lintas Diperkuat

    • calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Pekanbaru, – Keselamatan di jalan tidak hanya lahir dari penegakan aturan, tetapi juga dari administrasi kendaraan yang tertib dan pelayanan publik yang semakin mudah. Semangat itu menjadi bagian dari kolaborasi Bapenda Provinsi Riau bersama Polda Riau dalam membangun budaya tertib berlalu lintas. Atas peran tersebut, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Riau menerima piagam penghargaan dari […]

  • Selat Malaka Jadi Jalur Rawan, Polda Kepri–PDRM Perkuat “Benteng” Maritim Lawan TPPO dan Narkoba

    Selat Malaka Jadi Jalur Rawan, Polda Kepri–PDRM Perkuat “Benteng” Maritim Lawan TPPO dan Narkoba

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Ambok Akok
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Batam, – Perairan bukan sekadar jalur pelayaran dan penghubung antarnegara. Di balik aktivitas kapal yang hilir-mudik di Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan, terdapat ancaman kejahatan lintas negara yang terus mencari celah. Mulai dari penyelundupan manusia, perdagangan orang hingga peredaran narkotika, jaringan kejahatan memanfaatkan luasnya wilayah perairan dan batas yurisdiksi antarnegara. Ancaman inilah yang menjadi […]

  • Wujud Solidaritas, KJK Kunjungi Mantan Wartawan Tribun yang Sakit Menahun

    Wujud Solidaritas, KJK Kunjungi Mantan Wartawan Tribun yang Sakit Menahun

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Amril Agin
    • visibility 29
    • 0Komentar

    TANJUNGPINANG — Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) menunjukkan aksi nyata solidaritas sesama profesi dengan mengunjungi Trisno Aji Putra, mantan wartawan Tribun Batam yang tengah terbaring sakit. Kunjungan sosial ini berlangsung di kediaman Aji yang berlokasi di Jalan Soekarno Hatta, Lorong Buntu, samping Kantor Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang, pada Minggu (6/9/2026). Aji diketahui harus berjuang melawan sakit […]

  • Monumen F-16 Lanud Roesmin Nurjadin Kini Tampil Lebih Segar

    Monumen F-16 Lanud Roesmin Nurjadin Kini Tampil Lebih Segar

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Amril Agin
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Pekanbaru, – Monumen pesawat tempur F-16 yang berada di kawasan Lanud Roesmin Nurjadin (Rsn) Pekanbaru kini mendapat sentuhan pembaruan. Tampilan pesawat yang sebelumnya mulai terlihat kusam kembali dipercantik sehingga lebih enak dipandang dan tetap menjadi bagian penting dari kawasan satuan. Pembaruan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek estetika. Monumen F-16 juga menjadi salah satu pengingat […]

  • Tim SAR Sisir Selat Sunda Lewat Laut dan Udara

    Tim SAR Sisir Selat Sunda Lewat Laut dan Udara

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
    • account_circle Amril Agin
    • visibility 0
    • 0Komentar

    Pandeglang, – Operasi pencarian delapan orang yang masih dinyatakan dalam pencarian setelah speedboat yang mereka tumpangi hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, terus diperluas. Memasuki hari keempat, Jumat (11/9/2026), Tim SAR Gabungan mengerahkan kekuatan melalui jalur laut dan udara. Penyisiran dilakukan dengan membagi wilayah operasi ke dalam sejumlah sektor, termasuk kawasan sekitar […]

expand_less