Markisa Bersama Misni
- account_circle Basok Ridwan
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sekretaris Daerah Kepulauan Riau Misni memetik buah markisa di pekarangan rumah Ady Indra Pawennari, Sabtu (24/10/2026).
Mari Kita Santai Bersama Merawat Ikatan Silaturahmi Nan Indah
Markisa di pekarangan rumah Ady Indra Pawennari mendapat tamu istimewa pada Sabtu pagi (24/10/2026). Sekretaris Daerah Kepulauan Riau, Misni, datang berkunjung dan menyempatkan diri memetik buahnya.
Bagi tuan rumah, itu sebuah kehormatan. Bagi markisa, barangkali itu prestasi tertinggi sejak masih berupa bunga.
Selama ini ia tumbuh, merambat, lalu menunggu matang. Pagi itu, penantiannya berakhir di tangan Ibu Sekda. Cukup membanggakan untuk tanaman yang sehari-hari hanya berurusan dengan matahari dan air.

Sekdaprov Kepri Misni bersama pengurus DPP PJS membahas persiapan penyambutan peserta Rakernas III PJS dalam pertemuan di Tanjungpinang, Sabtu (24/10/2026). (Foto: Basok)
Ady menerima Misni bersama Staf Khusus Gubernur Kepri, Suyono Saeran dan dua pengurus DPP PJS, Amril Agin dan Ambok Akok. Kopi tersaji, buah ikut dinikmati, dan mereka duduk bersama dalam suasana akrab.
“Alhamdulillah, pagi ini, Sabtu (24/10/2026), saya menerima kunjungan Sekda Kepri, Ibu Misni di kediaman,” tulis Ady dalam keterangannya.
Di meja itu, markisa memperoleh arti lain yaitu mari kita santai. Nama Misni juga mendapat rangkaian yaitu merawat ikatan silaturahmi nan indah.
Maka lengkaplah ajakannya: Markisa bersama Misni, mari kita santai demi merawat ikatan silaturahmi nan indah.
Uraian kata ini lahir dari rasa senang hati menyambut tamu. Tidak perlu dibawa ke bagian administrasi. Cukuplah disimpan sebagai kenangan, supaya nama buah dan nama orang sama-sama mendapat tempat yang manis dalam cerita.
Misni sesekali tersenyum lebar sambil memegang belahan markisa. Isinya kuning keemasan, bijinya rapat, dan buah itu tampak pas di tangannya.
Markisa memang pandai menyembunyikan isi. Dari luar sederhana, setelah dibelah ternyata banyak yang ingin disampaikan. Untung semuanya biji. Kalau semuanya pendapat, kopi di meja bisa keburu dingin.
Senyum Misni membuat foto itu terasa hidup. Ada kegembiraan kecil yang mudah dikenali siapa saja: memetik buah, melihat isinya, lalu menikmatinya bersama orang-orang yang menyambut kedatangan kita.
Untuk melihat suasana sehangat itu, orang tak perlu memperbesar foto. Senyumnya sudah cukup jelas.
Kehadiran Misni juga memberi cerita baru bagi pekarangan Pak Ady. Tanaman yang biasanya menjadi latar rumah kini ikut masuk dalam kenangan kunjungan.
Sesudah ini, kalau ada tamu bertanya tentang markisa, tuan rumah punya bahan cerita tambahan. Buahnya boleh sudah habis, riwayatnya masih bisa disuguhkan.
Hanya saja, tanaman itu sebaiknya tetap diperlakukan seperti biasa. Disiram secukupnya, dirawat seperlunya. Jangan gara-gara pernah dipetik Ibu Sekda, besok ia minta air mineral.
Di sela kelakar tentang buah, ada sisi Misni yang terasa dekat dalam pertemuan tersebut. Ia duduk bersama, menikmati suguhan, dan meluangkan waktu untuk memanen hasil pekarangan.
Jabatan Sekda tentu membawa banyak tanggung jawab. Namun, pagi itu, foto memperlihatkan sepasang tangan sedang memegang markisa dan senyum yang lepas. Sebuah jeda yang menyenangkan untuk dikenang.

Sekdaprov Kepri Misni bersama pengurus DPP PJS memanen buah markisa di pekarangan kediaman Wakil Ketua Umum DPP PJS, Ady Indra Pawennari, di Tanjungpinang, Sabtu (24/10/2026). (Foto: Basok)
Pekarangan memang punya cara sendiri mengajak orang berhenti sebentar. Ada daun yang diperhatikan, buah yang dilihat kematangannya, lalu keinginan untuk memetik.
Di situ, siapa pun perlu mengikuti ketentuan tanaman. Yang matang boleh dipetik. Yang muda dibiarkan dahulu. Pak Ady sebagai pemilik rumah pun tak bisa memajukan jadwalnya hanya karena sedang kedatangan tamu.
Untung saja buah yang bisa dinikmati telah tersedia. Kehormatan tuan rumah terselamatkan tanpa harus berunding panjang dengan pohon.
Dari pekarangan, cerita berlanjut ke meja. Cangkir dan suguhan menemani kebersamaan Misni, Ady, Suyono, Amril, serta Ambok Akok.
Kopi punya tugas yang cukup mulia dalam pertemuan seperti itu: menemani percakapan sampai orang merasa betah. Ia boleh berkurang sedikit demi sedikit, asal keakraban terus bertambah.
Markisa membantu dengan caranya sendiri. Kalau rasanya manis, orang senang. Kalau sedikit masam, setidaknya ada bahan untuk tersenyum. Buah yang baik rupanya tetap berguna dalam kedua keadaan.
Begitulah pertemuan sederhana mendapat isinya. Ada yang disuguhkan, ada yang dinikmati, dan ada waktu yang diberikan kepada satu sama lain.
Tuan rumah menyediakan kursi. Tamu menyempatkan diri mengisinya. Di antara kedua hal itu, silaturahmi ketemu untuk tumbuh.
Merawatnya memang menyerupai merawat tanaman. Perlu perhatian, perlu disapa, dan sesekali perlu didatangi. Kalau hanya diingat tanpa pernah dikunjungi, pekarangan pun bisa kalah rimbun oleh rasa sungkan.
Untuk itu, foto pagi bersama Misni terasa layak disimpan. Suatu hari, ketika kesibukan kembali memenuhi kalender, gambar tersebut bisa menjadi pengingat bahwa pernah ada waktu untuk duduk, menikmati kopi, dan tersenyum karena sebutir buah bernama Markisa.
Saat pertemuan berlangsung, orang belum tentu memikirkan kenangan. Biasanya baru setelah pulang, melihat foto, lalu teringat suasananya, muncul pertanyaan: kapan duduk bersama lagi?
Jawabannya tentu menunggu waktu luang Ibu Misni. Pak Ady bisa menyiapkan kopi, tetapi belum bisa menyeduh kelonggaran jadwal panen Markisa.
Meski begitu, markisa akan terus tumbuh di pekarangan. Buah berikutnya mungkin dinikmati pada pertemuan lain. Orang-orangnya semoga bisa kembali lengkap, ceritanya boleh bertambah, dan senyumnya mudah-mudahan tetap selebar pagi itu.
Ada sedikit haru saat menyadari bahwa waktu bersama tak bisa disimpan seperti foto. Yang bisa dilakukan hanyalah meluangkannya lagi, selagi masih ada kesempatan.
Maka, sebelum kopi menjadi dingin dalam ingatan, baiklah ajakannya diulang: markisa bersama Misni. Mari kita santai, merawat ikatan silaturahmi nan indah.
Singgahlah lagi, Bu. Kalau markisa Pak Ady belum masak, kopi tetap bisa disiapkan. Untuk urusan buah, mohon sedikit bersabar. Tanamannya belum bisa dititipi disposisi.
Penulis Basok Ridwan
Ia merupakan seorang jurnalis muda multitalenta yang saat ini aktif bergerak di bawah bendera BacaDulu.id. Dengan wilayah liputan strategis di Kepulauan Riau, ia berdedikasi menyajikan analisis tajam terkait kebijakan publik, tata kelola pemerintahan, hingga dinamika politik lokal. Profesionalisme dan integritasnya di ruang redaksi semakin kukuh setelah resmi mengantongi sertifikat kompetensi Wartawan Muda sejak 4 September 2026.

Jadikan 





Saat ini belum ada komentar