Suhajar Diantoro, Jejak Putra Kundur dari Kecamatan ke Panggung Nasional
- account_circle Suyono Saeran
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Suhajar Diantoro.
Perjalanan Suhajar Diantoro menuju pemerintahan pusat memiliki titik berangkat yang dekat dengan kehidupan masyarakat kepulauan yaitu kantor kecamatan.
Jauh sebelum dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, putra Karimun itu lebih dahulu menjalani tugas sebagai sekretaris kecamatan.
Dari sana, penugasannya bergerak melintasi pulau, memasuki pemerintahan provinsi, hingga membawanya mengemban tanggung jawab di tingkat nasional.
Lahir di Sei Ungar, kawasan Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, pada 2 Mei 1964, Suhajar tumbuh dan menempuh pendidikan dasar di daerah asalnya. Riwayat pendidikan dalam dokumen Kemendagri mencatat ia bersekolah di SD Negeri 02 Sei Ungar dan melanjutkan ke SMP Negeri Tanjung Batu. Pendidikan kemudian membawanya ke Pekanbaru, tempat ia menamatkan SMA dan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri.
Bekal kepamongprajaan itu diteruskannya di Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta. Pada 1991, ia mendapat tugas sebagai Sekretaris Kecamatan Tanjung Balai Karimun. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Camat Serasan, disusul penugasan sebagai Camat Kundur dan Camat Karimun.
Nama-nama tempat tersebut menjadi penanda penting dalam perjalanan kariernya. Sebelum berurusan dengan kebijakan nasional, Suhajar telah menapaki pemerintahan di wilayah kepulauan, tempat pelayanan publik harus menjangkau masyarakat yang terpisah oleh laut.
Lingkup tanggung jawabnya kemudian meluas. Ia memegang jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karimun, lalu berkiprah di Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Pada 2011–2013, Suhajar dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Kepri.
Dari posisi itu, langkahnya berlanjut ke Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Pada 2013–2015, ia menjabat rektor lembaga yang mendidik calon aparatur pemerintahan tersebut. Selepas itu, ia mendapat penugasan sebagai Staf Ahli Menteri Dalam Negeri.
Perjalanan Suhajar juga bersinggungan dengan masa peralihan kepemimpinan daerah. Ia pernah menjadi Penjabat Gubernur Bengkulu pada Desember 2015 hingga Februari 2016. Kemudian, pada 18 Februari 2021, ia dilantik sebagai Penjabat Gubernur Kepulauan Riau.
Penugasan di Kepri membawanya kembali ke daerah yang pernah menjadi tempat pengabdiannya. Saat itu, pemerintah menghadapi kebutuhan menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus menangani pandemi Covid-19.
Babak berikutnya datang pada 10 Maret 2022. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian melantiknya sebagai Sekretaris Jenderal Kemendagri definitif setelah sebelumnya menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas.
Di tengah amanah tersebut, Suhajar menyampaikan permintaan singkat.“Mohon dukungan dan bimbingan,” kata Suhajar seperti diberitakan ANTARA.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kepri atas doa dan dukungan sejak dirinya meninggalkan daerah itu untuk menjalani penugasan pada 2013.
Masa tugasnya sebagai Sekjen berakhir pada 30 April 2024, ketika ia dilantik menjadi Wakil Rektor IPDN Bidang Hukum, Kerja Sama, dan Kepegawaian. Dalam kesempatan tersebut, Tito menilai Suhajar memiliki pengalaman panjang dan mampu menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan kepadanya. Pengalaman itu diharapkan memberi kontribusi bagi dunia pendidikan kepamongprajaan.
Pengabdiannya kemudian memasuki bidang baru. Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto melantik Suhajar sebagai salah satu wakil kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa di Istana Negara, Jakarta.
Sebagai Wakil Kepala II, kiprahnya kini turut bersentuhan dengan persoalan perlindungan pesisir.
Dalam kunjungan ke Kasemen, Kota Serang, pada Mei 2026, ia menjelaskan perlunya penanganan sesuai kondisi wilayah, termasuk mempertahankan mangrove yang masih baik untuk membantu menahan abrasi.
Dari Kundur, Serasan, dan Karimun, perjalanan tugas Suhajar menjangkau ruang tanggung jawab yang semakin luas.
Riwayatnya memperlihatkan jalan panjang seorang aparatur yang menapaki pemerintahan daerah, pendidikan kepamongprajaan, hingga birokrasi pusat.
Bagi generasi muda Kepulauan Riau, jejak itu memberi alasan untuk melihat masa depan dengan cakrawala lebih luas. Kampung halaman dapat menjadi tempat memulai, sementara pendidikan dan pengalaman membuka jalan untuk mengambil peran lebih jauh.
Seperti perjalanan Suhajar: berangkat dari kepulauan, lalu membawa pengabdiannya ke panggung nasional.
Penulis Suyono Saeran
Pengalaman jurnalistiknya membentang dari tahun 1999. Mulai SKM Genta, Media Kepri, Harian Lantang, Kepri Bangkit dan lainnya. Selain sebagai jurnalis, Ia juga penulis buku yang produktif. Sudah lima buku yang dihasilkannya mulai dari Perjalanan Meraih Mimpi, Kepri Terang, Ansar: Guru Ngaji Jadi Gubernur Kepri, Dari Lex Baux ke Dapur Arang dan Mutiara di Air Saga.

Jadikan 




Saat ini belum ada komentar